Sebab, dalam pidato itu Jokowi memaparkan tentang komoditas yang paling mahal di dunia bukan emas, melainkan bisa kalajengking. Kata dia, bisa kalajengking ini berharga 10, 5 juta dolar AS per liter atau jika dirupiahkan mencapai Rp 145 miliar per liter.
Atas alasan itu dia meminta kepada para kepala daerah untuk mengumpulkan racun kalajengking jika ingin kaya, ketimbang harus mengkorupsi uang rakyat.
"Pak gubernur, pak bupati, pak walikota kalau mau kaya cari racun kalajengking," ujarnya.
Ide ini bagi pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio sangat kreatif. Tapi secara teknis mencari bisa kalajengking bukan pekerjaan mudah.
"Tapi memang tidak mudah, pertama cari dulu kalajengkingnya, kedua kasih pengertian ke kalajengking dan seterusnya," celotehnya sembari tertawa kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (2/5).
Kata dia, data tentang kajian, harga, dan peruntukan kalajengking memang masih belum tersedia dengan baik. Atas alasan itu, dia menilai ada makna tersirat dalam pernyataan Jokowi tersebut.
"Mungkin Jokowi ngajak rakyatnya kerja keras, kreatif, dan ambil resiko kalau mau dapat rejeki besar. Mungkin ajakan untuk kerja keras walau nyawa taruhannya," tukasnya.
[ian]