Koalisi LSM: Tak Seharusnya Zonasi Tambang Dihilangkan di Beltim

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Jumat, 09 Maret 2018, 18:58 WIB
Koalisi LSM: Tak Seharusnya Zonasi Tambang Dihilangkan di Beltim
Ilustrasi/Net
rmol news logo . Masyarakat Belitung Timur (Beltim) yang tergabung dalam Aliansi LSM dan Ormas Beltim melakukan audiensi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Audiensi digelar di Gedung Mina Bahari III, Jakarta, Jumat (9/3).

Dalam pertemuan itu mereka menyampaikan aspirasi dan masukan-masukan terkait Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil  (RZWP3K) Provinsi Bangka Belitung. Mereka juga menyayangkan hilangnya sub zonasi pertambangan di laut Beltim dalam draf Raperda Zonasi.

''Kami sampaikan di sini, potensi timah di laut Beltim masih ada. Jadi, wajib dimasukkan dalam Raperda. Kenapa? Karena sama sekali tidak mengganggu kegiatan nelayan,'' kata Aman Saprin, Sekjen Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Beltim, usai audiensi.

Ia menambahkan, penambangan laut hanya dilakukan di wilayah maksimal 4 mil dari bibir pantai. Sementara nelayan menangkap ikan jauh di atas itu, bisa sampai 20-60 mil. Alasan lainnya karena sumber pendapatan utama masyarakat Beltim selain menangkap ikan adalah tambang.

"Jika tambang dihilangkan, berapa banyak tenaga kerja yang akan kehilangan sumber pendapatannya?'' ucapnya.

Terkait teknologi alat tambang, Aman mengaku optimistis, sudah berkembang pesat, dan lebih ramah lingkungan.

Hal senada disampaikan Koordinator Aliansi LSM dan Ormas Beltim, Syamsuriza. Ia mengatakan, hilangnya subzona pertambangan dalam dokumen draf RZWP3K melanggar peraturan perundang-undangan.

"Dasar penyusunan RZWP3K adalah hasil kesepakatan pemangku kepentingan di Beltim pada tanggal 14 Agustus 2017. Selain itu, dasar penyusunan RZWP3K adalah RTRW Kabupaten Beltim yg sudah diperdakan jauh sebelumnya," tuturnya.

Perlu diketahui, subzona pertambangan yang sudah memiliki izin usaha pertambangan (IUP), masih aktif dan berlaku serta mempunyai status hukum kuat, diatur dalam Permen ESDM No 1095/2014.

Kegiatan audiensi diterima oleh Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya S. Poerwadi. Brahmantya menerima seluruh masukan dan aspirasi aliansi masyarakat Beltim. Pihaknya terus berkomitmen untuk tetap mengakomodasi semua kepentingan dan mencarikan solusi terbaik.

Pihak KKP juga meminta agar masyarakat memberika  dukungan kepada gubernur yang nantinya menentukan Perda Zonasi Babel.

''KKP Pusat hanya mengawal,'' ujarnya.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA