Begitu kata Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dalam akun
Twitter @Fahrihamzah, Rabu (18/10).
Dia menjelaskan bahwa di Amerika ada istilah yang menjadi istilah politik umum, yaitu bully pulpit yang menjadi dasar pemimpin Amerika banyak bicara. Kata Bully berarti menggertak, sementara pulpit berarti mimbar.
"Tapi bully pulpit sebagai konsep adalah penggunaan posisi publik yang berpengaruh untuk meyakinkan publik.
Di sini kata Bully bermakna positif. Orang yang memiliki mimbar harus punya kesadaran untuk meyakinkan bangsanya," jelas Fahri.
"Itulah yang setiap hari dilakukan presiden Amerika sehingga mereka bisa meyakinkan bangsa besar untuk berubah," sambung Fahri.
Dalam tradisi presidensialisme Amerika, lanjutnya, ada menteri urusan media yang setiap hari masuk TV dan berbicara. Menteri ini bertugas melayani media sampai puas hingga tidak ada pertanyaan lagi.
"Supaya utuh pesannya. Jadi baik presiden maupun jurubicaranya sangat aktif bahkan agresif untuk bicara. Karena bicara adalah kewajiban utama," jabar Fahri.
Sementara di Indonesia, banyak bicara dianggap kurang baik. Bahkan ada yang bilang banyak bicara berarti tidak ada kerja atau sebatas omong doang.
"Lalu, presiden kita pun menganggap banyak bicara nggak bagus. Semboyannya kerja, kerja, kerja.
"Presiden lupa bahwa dalam kapasitas sebagai presiden dari negara berpenduduk besar dan tersebar bicara itu utama," tutupnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: