"Karena menunggu pengencer darahnya bekerja selama 5 hari. Setelah itu akan dilakukan tindak operasi kedua," urainya saat dihubungi wartawan, Jumat (22/9).
Sementara itu, Deisti menjelaskan bahwa kondisi Setya Novanto masih belum stabil. Pagi tadi, vertigo kembali‎ menyerang Novanto, hingga ia mengalami muntah-muntah. Dokter, kata Deisti, melaporkan bahwa selepas Salat Subuh Novanto mengalami vertigo dan harus ditangani di ICCU.
"Nggak lama dari itu langsung muntah dan menggigil.‎ Nah terus dikasih obat lah via suntikan untuk menahan vertigonya dan mualnya. Kalau muntah mungkin ada tekanan tekanan kembali ya. Tapi barusan saya liat masih gabisa bergerak masih pusing," terang Deisti.
Setya Novanto masih diinfus dan bernafas dengan bantuan tabung oksigen. Sejumlah alat untuk mengetahui perkembangan jantung, juga masih melekat di tubuh ketua umum Partai Golkar itu.
"Obatnya dimasukin via infusnya. Oksigen dipasang terus. Jadi kalau tidur malam dipasang oksigen. Jadi sekarang itu yang buat di jantung masih dipasang. Masih dimonitor dari tv monitornya," ujar Deisti.
Lebih lanjut, Deisti menjelaskan bahwa masalah gangguan pernapasan ini sebenarnya sudah lama dialami suaminya, yaitu sejak tahun 2015 yang lalu. Dokter dari Singapura, Lim Tau Tian dan konsulan radiologi juga dari Singapura, Gi Ming Tye sudah menyarankan agar ‎kesehatan Novanto segera ditangani agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.
"Tapi baru sekarang (dioperasi), sesuai dengan rekomendasi dari dokter THT Di RS Premier Dokter Himawan untuk segera dilakukan operasi," urainya.
Di akhir pemaparannya, Deisti memastikan bahwa tim dokter jantung RS Premier sudah melaporkan perkembangan Novanto kepada KPK yang beberapa kali datang melihat kondisi Novanto.
"Saya diberitahu tim dokter jantung RS. Premier bahwa mereka sudah melaporkan perkembangan kondisi suami saya dan diketahui oleh dokter KPK beserta tim pada saat kunjungan ke sini beberapa kali," pungkasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: