"Kalau Khofifah mau nyalon (mencalonkan diri), dia bisa mengundurkan diri. Maju tidaknya Khofifah bakal mempengaruhi konstalasi politik," tutur pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno saat berbincang dengan redaksi, Sabtu (9/9).
Menurut Adi, dengan majunya Khofifah, berpotensi memecah suara Nahdatul Ulama (NU) di Jatim. Khususnya, dukungan terhadap kandidat lainnya, Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul.
"Kalau Khofifah maju, suara NU pasti terbelah. Yang struktural lebih condong ke Gus Ipul. Yang kultural, terutama majelis-majelis perempuan NU ke Khofifah," paparnya.
Selain itu, menurutnya, wanita yang masih menjabat sebagai Menteri Sosial itu juga memiliki daya magnet elektoral yang bisa membuat partai lain mendukung dia.
Di tengah suara NU yang terbelah ini, lanjut Adi, PDIP akan berpikir ulang untuk menentukan jagoannya.
"PDIP bisa mencari celah dan peruntungan di suara NU yang terbelah itu. Khofifah peluang menangnya cukup besar saat ini. Di level grass root Khofifah cukup populis dan mengakar," pungkasnya.
Untuk diketahui, KPU RI telah menetapkan waktu pencoblosan Pilkada Serentak 2018, yaitu tanggal 27 Juni 2018. Rencananya, ada 171 daerah yang mengikuti Pilkada 2018. Dari jumlah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada di 2018.
[san]
BERITA TERKAIT: