Jokowi-SBY "Hangat" Megawati-SBY "Dingin"

Dari Bahasa Tubuh

Sabtu, 19 Agustus 2017, 10:56 WIB
Jokowi-SBY "Hangat" Megawati-SBY "Dingin"
Foto/Net
rmol news logo Kehadiran 3 mantan Presiden pada upacara detik-detik Proklamasi di Istana 17 Agustus 2017 mendapatkan perhatian rakyat yang luas, terutama bertemunya kembali Megawati dengan SBY dalam satu acara resmi.

 Setelah 2 tahun berturut-turut SBY "absen", pada tahun ketiga sejak dia meninggalkan pemerintahan, tanpa banyak publikasi sebelumnya, SBY buat "surprise" yang tak diduga baik kawan maupun lawan-lawan politiknya. SBY datang dan hadir di Istana dalam peringatan kemerdekaan.

Kita ingat dulu selama 10 tahun SBY menjabat sebagai Presiden tak sekalipun Megawati hadir dalam acara yang sama di Istana Merdeka. Karenanya, 3 hari terakhir ini bertemunya Presiden dan para mantan Presiden masih menjadi pembicaraan publik. Masyarakat ingin tahu lebih luas apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan selama lebih dari 2 jam itu.

Mengamati Bahasa Tubuh

Dari jepretan lensa dan rekaman video bahasa tubuh mereka, termasuk sumber yang enggan disebut namanya, kelihatan bahwa jabat tangan dan pembicaraan antara jokowi dan SBY nampak "hangat". Sebaliknya antara Megawati dan SBY nampak "dingin" dan sepertinya belum cair.

Ketika dikonfirmasi ke lingkaran dalam SBY, mereka mengatakan bahwa secara pribadi sebenarnya tidak ada permusuhan pribadi antara SBY dan Jokowi. SBY bukan rival jokowi, utamanya dalam Pilpres 2014 lalu.

Kita masih ingat di samping SBY memerintahkan para Menterinya untuk mendukung dan membantu Tim Transisi Jokowi, SBY memberikan "brief" tentang banyak hal kepada penggantinya, baik yang berkaitan dengan isu domestik maupun internasional. Jokowi sebagai presiden terpilih diundang ke Istana, dan diberikan karpet merah oleh SBY ketika pertama kali memasuki Istana, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Indonesia merdeka.

Barangkali yang membikin hubungan SBY-Jokowi mulai terganggu adalah di satu sisi pihak SBY merasa terus disalahkan dan dijadikan kambing hitam atas banyak hal. Sementara di sisi lain, kubu jokowi merasa tidak senang karena beberapa kali SBY dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Partai Demokrat memberikan kritik dan koreksi.

Menurut orang-orang dekat SBY, sikap SBY dan Demokrat tetap konsisten dukung pemerintahan Jokowi manakala kebijakannya benar, sebaliknya berikan koreksi ketika dianggap salah dan tak sesuai dengan harapan rakyat. Tetapi, SBY keras dan melarang para pendukungnya untuk berusaha menjatuhkan Jokowi di tengah jalan. Alasannya, sekali presiden yang dipilih langsung oleh rakyat dijatuhkan, selamanya politik Indonesia akan tidak stabli dan mudah terguncang.

Kalau "kehangatan" hubungan SBY-Jokowi berlanjut, maka pihak Jokowi lah yang paling beruntung, karena dukungan SBY akan sangat berarti bagi kelanjutan pemerintahannya, bahkan dalam Pilpres 2019 kelak.

Mengapa Megawati- SBY Tetap Dingin

Masyarakat banyak yang mengetahui bahwa Taufik Kiemas, sang suami Mega, hingga menjelang akhir hayatnya masih tetap berusaha untuk mencairkan kembali hubungan Megawati-SBY, tetapi tak berhasil.

Pihak SBY nampaknya lebih welcome dan punya keinginan untuk menjalin kembali komunikasi di antara keduanya, termasuk ketika dulu SBY menjadi presiden. Di pihak lain, sumber yang dekat dengan Megawati mengatakan bahwa sebenarnya pihak Megawati sudah tidak sekeras dulu. Artinya, masih tetap ada kemungkinan terjalinnya kembali komunikasi di antara keduanya.

Seperti sebelum-sebelumnya, jika mereka berdua kebetulan berada dalam satu forum, SBY, yang merasa lebih muda, yang lebih dulu mendatangi dan menyapa Megawati. Namun, sebagaimana yang nampak dari jepretan lensa tanggal 17 Agustus 2017, jabat tangan keduanya belum "hangat". Juga tidak terjadi percakapan lebih lanjut.

Kalau belum cairnya hubungan Megawati-SBY tersebut diakibatkan oleh rivalitas dan kompetisi dalam 2 kali Pilpres yang lalu (Pemilu 2004 dan Pemilu 2009), mestinya tak harus dibawa terus dan bahkan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya.

Tapi untung, dari jepretan lensa atas bahasa tubuh antar anak-anak Presiden yaitu Ilham Habibie, Yenny Wahid, Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), justru ada harapan baik. Mereka bisa berbicara dengan baik dan tampak akrab. Beberapa saat yang lalu, AHY juga sempat bertemu dan berbicara dengan Gibran anak sulung Jokowi. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA