Namun sangat disayangkan ada yang berupaya memanfaatkan tokoh yang biasa disapa Mbah Moen itu dalam konflik internal partai.
Alumnus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ismail Marjuki mengatakan, ketokohan Mbah Moen sangat diakui di kalangan PPP. Apalagi, nasihat-nasihatnya sangat menyejukkan.
"Nggak tega rasanya melihat sesepuh kami diperlakukan seperti itu. Terlebih dijadikan alat politik untuk kekuasaan," ujar Ismail mengkritik cara PPP kubu Romahurmuziy memperlakukan Mbah Moen dalam acara Mukernas di Jakarta.
Dia menilai, PPP kubu Romahurmuziy sangat mengistimewakan Mbah Moen untuk menghadiri acara Mukernas. Tapi berbeda perlakuan ketika Mbah Moen pulang dari acara tersebut.
"Setelah acara selesai beliau diantar pulang sampai lobi hotel. Dari bandara ke Semarang naik pesawat umum bersama pendampingnya dan pulang dengan mobil jemputan dari pondok. Di mana penghormatan beliau kepada ulama?" kritik Ismail dalam keterangan tertulisnya.
Sebaliknya, dia mengapresiasi perlakuan yang ditunjukan PPP kubu Djan Faridz kepada Mbah Moen. Menurutnya penghormatan terhadap tokoh PPP sangat penting untuk menjaga muruwah PPP sebagai partai Islam.
"Mbah Moen posisinya sebagai Ketua Dewan Syariah partai," tegasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: