Memonopoli Tafsir Pancasila Juga Bisa Disebut Radikalisme

Selasa, 25 Juli 2017, 13:28 WIB
Memonopoli Tafsir Pancasila Juga Bisa Disebut Radikalisme
Yusril Ihza Mahendra/Net
rmol news logo Radikalisme bukan hanya ada di dalam gerakan-gerakan Islam. Radikalisme juga bisa muncul pada kelompok keagamaan dan kelompok ideologis manapun.

Begitu kata pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra di sela-sela seminar "Islam dan Demokrasi" di Gedung Bank Bukopin, Jakarta, Selasa (25/7)

"Bahkan radikalisme Pancasila pun bisa timbul juga. Jika mulai ekstrim menafsirkan Pancasila, memonopoli tafsirnya, dan menuduh-nuduh kelompok lain anti Pancasila semaunya sendiri pun bisa melahirkan kelompok Pancasila radikal dan ekstrim," tegas Yusril.

Untuk itu, Yusril meminta pemerintah bisa mendahulukan sikap persuasif dalam membubarkan setiap kelompok yang dituding radikal. Dalam hal ini, tidak secara subjektif dengan berbekal Perppu Ormas, tapi harus melalui proses pengadilan.

"Negara harus bersikap persuasif sebelum mengambil langkah hukum membubarkan mereka," pungkas ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA