"Jadi itu semua terserah Presiden Jokowi. Kalau memang perlu reshuffle, tentu sudah diperhitungkannya. Alasan ekonomi memang tampak mengemuka kini dan dulu," kata Alfan saat berbincang dengan redaksi, Rabu (12/7).
Namun demikian, Alfan ragu jika reshuffle akan membawa perubahan. Pasalnya menurut dia sejauh ini pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla (JK) memang tidak punya strategi baru yang baru terkait masalah-masalah, khususnya di bidang ekonomi yang semakin kompleks.
"Belum tentu juga reshuffle akan bawa perubahan, Inilah dilemanya. Kalau tidak ada strategi baru, maka masalah yang kompleks tak mudah terurai. Strategi baru macam apa? Yang rasional, realistik, dan mengerem utang. Memang banyak ongkos pembangunan infrastruktur, tapi strategi pendanaannya harus yang aman," tegas Alfan.
Atas dasar itu, kata kunci atas masalah yang sedang dihadapi oleh pemerintah Jokowi-JK saat ini adalah pada strategi baru, bukan reshuffle kabinet.
"Reshuffle bukan berarti tidak boleh, tapi buat apa kalau sekadar ganti orang, tetapi tidak ganti strategi pembangunan. Butuh strategi baru yang berbeda dengan sebelumnya," demikian Alfan.
[san]
BERITA TERKAIT: