Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), memandang, reshuffle kabinet kelima bukan sekadar bongkar pasang menteri dengan tujuan perbaikan ekonomi rakyat.
“Ini mirip pesta bagi oposisi yang dulu berisik, kini malah ikut menikmati kue kekuasaan,” ujar Habib Syakur kepada
Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Rabu, 29 April 2026.
Salah satu yang mencolok, kata dia, dapat dilihat dari kehadiran pengkritik kebijakan pemerintah, yakni dosen filsafat Universitas Indonesia (UI), , yang turut hadir dalam pelantikan pejabat baru.
Bahkan Habib Syakur menyaksikan, Rocky bersama aktivis yang katanya hadir ke Istana untuk menyaksikan dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup, bercanda gurau dengan Presiden Prabowo.
“Bayangkan, Rocky Gerung yang selama ini dikenal sebagai pengkritik paling cerewet, tiba-tiba nongol di Istana dengan senyum lebar, menemani Jumhur Hidayat yang kini resmi menjabat Menteri Lingkungan Hidup,” tuturnya.
Adegan itu, lanjut Habib Syakur, bukan sekadar simbol rekonsiliasi, melainkan kemenangan oposisi atas pemerintah.
"Ketawa-ketawa di Istana, sementara rakyat masih menangis di dapur," begitu kira-kira nada sarkas yang ia lontarkan.
Masuknya para aktivis ke lingkaran kekuasaan dianggap Habib Syakur sebagai pengkhianatan terhadap rakyat kecil.
“Jumhur, yang dulu lantang membela buruh, kini justru dianggap meninggalkan perjuangan mereka begitu kursi empuk ditawarkan. Kritik yang dulu menakutkan pemerintah kini berubah jadi tiket masuk kabinet,” sambungnya mengkritik.
Oleh karena itu, Habib Syakur menilai reshuffle kelima yang dilakukan Presiden Prabowo ini sebagai strategi klasik, merangkul yang berisik agar berhenti berteriak.
“Namun, bagi rakyat yang masih bergulat dengan harga kebutuhan pokok dan lapangan kerja yang sempit, reshuffle ini terasa seperti sandiwara politik. Aktivis yang dulu berdiri di barisan depan demonstrasi kini duduk manis di kursi menteri, sementara buruh tetap berdiri di depan pabrik menunggu nasib,” urainya.
“Reshuffle kali ini, dengan segala dramanya, seolah menegaskan bahwa politik bukan lagi soal idealisme, melainkan soal siapa yang dapat bagian dari kue kekuasaan. Rakyat? Seperti biasa, hanya kebagian remah-remah janji,” demikian Habib Syakur menutup.
BERITA TERKAIT: