Defisit Anggaran Di RAPBNP 2017 Mengkhawatirkan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 12 Juli 2017, 06:00 WIB
Defisit Anggaran Di RAPBNP 2017 Mengkhawatirkan
Net
rmol news logo Pemerintah telah merilis pokok-pokok perubahan pendapatan negara, belanja negara, dan defisit anggaran dalam Rancangan APBN-Perubahan 2017.

Ketua Bidang Ekonomi Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup (Ekuintek-LH) DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Memed Sosiawan mengatakan, didalamnya terdapat penambahan defisit anggaran yang cukup mengkhawatirkan.

Dia merinci, pada RAPBNP 2017, penerimaan negara turun sebesar Rp 36,20 triliun, belanja negara naik sebesar Rp 30,9 triliun, dan defisit anggaran naik Rp 67,0 triliun.

"Sehingga menaikkan persentase defisit anggaran dari 2,41 persen menjadi 2,92 persen," ujar Memed kepada redaksi, Rabu (12/7).

Menurutnya, jika defisit anggaran sebesar 2,92 persen sangat menghawatirkan. Alasannya, defisit tersebut belum ditambah dengan defisit anggaran yang terjadi di daerah dalam APBD-APBD.

"Kalau ditambahkan maka defisit anggaran secara total bisa melebihi tiga persen PDB. Meskipun pemerintah berjanji akan menjaga defisit anggaran tetap di bawah tiga persen dengan melakukan penghematan-penghematan dalam belanja negara dan memaksimalkan penerimaan negara," terang Memed.

Selain itu, Memed juga menyebut keseimbangan primer dalam RAPBNP 2017 terus bergerak negatif. Data dari pemerintah menunjukkan meningkatnya kekurangan keseimbangan primer dari semula negatif Rp 109,0 triliun dalam APBN-2017 menjadi negatif Rp 178,0 triliun dalam RAPBNP 2017.

Keseimbangan primer APBN selalu negatif sejak 2012 dan jumlahnya selalu meningkat. Dia merinci, dalam RAPBNP 2017 tersebut, dari defisit anggaran sebesar Rp 397,2 triliun yang diperoleh dari berbagai skema pembiayaan atau utang, maka sejumlah Rp 178,0 triliun harus digunakan untuk menutup kekurangan belanja negara. Dan sisanya digunakan juga untuk membayar bunga dan cicilan utang, serta pokok utang.

"Dengan kata lain, APBN sejak 2012 sampai sekarang menggunakan utang untuk membayar bunga, cicilan utang, dan pokok utang," ujar Memed.

Ditambahkannya, jika keseimbangan primer APBN positif maka kelebihan penerimaan negara tersebut dapat digunakan untuk membayar bunga, cicilan utang, dan pokok utang.

"Padahal keseimbangan primer positif merupakan pondasi utama bagi ketahanan dan kesinambungan fiskal negara dalam jangka panjang," demikian Memed. [wah]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA