Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan itu digelar di Istana Negara, kemarin. Di acara itu, ada 6 dubes yang dilantik. Selain Rusdi, mereka adalah Adityawidi Adiwoso sebagai Dubes RI untuk Slowakia, Sidharto Reza Suryodipuro sebagai Dubes RI untuk India, dan Ferry Adamhar sebagai Dubes RI untuk Yunani. Selain itu, ada juga Rina Prihtyasmiarsi Soemarno sebagai Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal, dan Ratlan Pardede, sebagai Dubes RI Tanzania merangkap Burundi, Rwanda dan Uni Comoros.
Acara pelantikan kemudian ditutup dengan pemberian ucapan selamat yang didahului oleh Jokowi dan Ibu Iriana yang kemudian diikuti para tamu undangan. Tampak hadir di antaranya Mensesneg Pratikno, Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman M Fachir dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
Usai pelantikan, Rusdi kemudian bercerita bagaimana akhirnya ia yang menjabat wantimpres kemudian menjadi seorang diplomat. Dia mengaku meminta jabatan tersebut kepada Jokowi. "Saya tidak pernah ditawari duta besar negara lain, tapi saya meminta, mohon kepada Pak Presiden, khusus Malaysia," kata Rusdi.
Rusdi mengaku ingin jadi dubes RI untuk Malaysia karena ingin mengurus persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negeri Jiran. Mulai dari masalah TKI ilegal, penganiayaan TKW dan sebagainya. Sebagai dubes, Rusdi mengaku punya prioritas agar TKW yang bekerja di Malaysia punya keterampilan. Agar setelah pulang ke Indonesia, tidak balik lagi mencari kerja. Caranya dengan membuat semacam sekolah pelatihan, balai latihan, dan sebagainya. "Perlu diketahui, tidak ada seorang pun di dunia ini yang inginkan anaknya bekerja di luar negeri yang sebagai TKI (pembantu)," katanya.
Selain itu, dia mengaku sudah berkomunikasi dengan BRI dan Lion Group agar berkerja sama untuk membuka peluang usaha seperti UKM untuk para bekas TKI. BRI yang menyediakan dana, kemudian Lion Group yang memberikan penjaminan. Kata Rusdi, sudah ada contoh UKM di Manado yang menjalankan sistem tersebut. Dan hasilnya, menjanjikan. "Nah, dia harapkan dari produk UKM tersebut yang dibuat oleh tenaga migran kita bisa dijual di Manado dan dibeli oleh turis yang lagi kita galakkan di Manado," jelasnya.
Sebelum dilantik menjadi dubes, pria kelahiran Cirebon ini mengaku telah melepas jabatan sebagai wantimpres. Begitu juga terkait posisinya di perusahaan maskapai penerbangan Lion Air. Rusdi mengaku sudah tak menempati posisi direksi di maskapai berlogo kepala singa itu. "Direksi-direksi kami yang menjalankan," kata dia.
Pengamat luar negeri dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung DR Teuku Rezasyah menyampaikan dipilihnya Rusdi sebagai Dubes RI untuk Malaysia ini memang cukup mengejutkan. Pertama, dalam sejarahnya posisi ini biasanya diisi oleh para jenderal (purnawirawan) baik dari TNI maupun dari polisi. Sebagai contoh, jabatan ini sebelumnya secara berturut-turut diisi oleh eks KSAU Herman Prayitno dan eks Kapolri Dai Bachtiar. Dan jauh sebelumnya lagi ditempati oleh diplomat senior Kemenlu Tatang Budie Utama Razak yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu.
Selain itu, lanjut Rezasyah, posisi dubes RI untuk Malaysia itu seperti ada persyaratan tak tertulis, harus seorang muslim. Sebagaimana dubes RI untuk Filipina atau untuk Vatikan adalah seorang Katolik. Kenapa? Karena Malaysia selalu menyebut negaranya sebagai negara Islam, walapun dalam praktiknya tidak seperti itu. Begitu juga penduduknya sangat multikultural dari berbagai etnis. Meski begitu, masyarakatnya selalu berpikir negara muslim. "Pada prinsipnya saya setuju dengan penunjukan ini, meski secara keilmuwan memang tak ideal. Karena Pak Rusdi akan sulit mengoptimalkan lingkungan diplomatik yang terbuka luas sebagaimana jika dijabat oleh seorang dubes muslim," kata Rezasyah saat dikontak
Rakyat Merdeka, tadi malam.
Reza menuturkan, seorang dubes tak hanya mengurusi masalah formal prosedural. Tapi juga pekerjaan informal yang biasanya berkaitan dengan kultur dan budaya setempat. Momen-momen keagamaan seperti perayaan Lebaran, peringatan Isra Mi’raj, Maulid Nabi, dan sebagainya akan sulit dioptimalkan. Momen-momen keagamaan yang biasanya dijalani untuk mendapatkan chemistry antar pejabat, tentu akan sangat lama diperoleh oleh Rusdi. Soal permasalah TKI, Reza pun sedikit ragu. Dia menyebut, seorang Rusdi Kirana memang sangat handal di dunia politik dan bisnis. Namun soal interaksi Rusdi dengan TKI, Reza bilang mungkin masih perlu pembuktian.
Karena itu, Reza menyarankan agar Rusdi mengandalkan staf diplomasi yang ada dan tetap berlaku profesional. Dia bilang, Rusdi mesti memberikan keleluasaan kepada wakil dubes dan semua staf diplomatik untuk menjalankan tugas pokok mereka. "Pak Rusdi mesti menyadari keterbatasan-keterbatasanya dan menyerahkan keterlibatan teknis pada ahlinya," ujarnya.
Anggota Komisi I DPR Meutya Hafid menyampaikan, Komisi I DPR sudah memberikan pertimbangan terhadap penunjukan Rusdi Kirana. Dan menurut Meutya, dalam uji kepatutan dan kelayakan yang digelar DPR, sosok Rusdi dianggap layak untuk menempati posisi Dubes RI untuk Malaysia. "Beliau sangat concern terhadap masalah TKW di Malaysia. Kami yakin beliau bisa menjalankan tugasnya dengan baik," kata Meutya, saat dikontak, tadi malam. Apakah sebagai pengusaha akan menghambat kinerjanya? Tak ada syarat khusus bahwa seorang diplomat harus diplomat senior. Politikus Golkar ini bilang, pengusaha dan wartawan pun sangat bisa menjalankan tugas dubes.
Dia mencontohkan Peter Gontha yang menjadi Dubes RI untuk Polandia. Senada disampaikan Anggota Komisi I DPR dari PKB Syaiful Bahri. Dia bilang, Jokowi tak salah dengan penunjukan tersebut. Dalam fit and proper test Desember lalu, Rusdi telah memaparkan bagaimana agar TKI bisa bermartabat. Misalnya dengan mengadakan pola pelatihan-pelatihan. Dia berharap, apa yang menjadi rencana dan konsep calon Dubes Malaysia ini dapat diimplementasikan, terealisasikan dan berjalan dengan baik. Sehingga, dapat membawa nama baik Indonesia. ***
BERITA TERKAIT: