KSPI dan FSPMI menduga ada kekuatan yang secara sistemik ingin melemahkan gerakan serikat pekerja di Indonesia.
"Fitnah seperti itu (meme rumah mewah Said Iqbal) tidak hanya terjadi kali ini. Bahkan sudah dilakukan sejak tahun 2012," beber Wakil Ketua DPW FSPMI DKI Jakarta, Hilman Firmansyah melalui siaran persnya hari ini (Jumat, 5/5), .
"Tetapi semua cara kotor dan fitnah tersebut tidak pernah berhasil, karena anggota lebih mengerti bagaimana pemimpinnya. Presiden KSPI yang juga Presiden FSPMI berjuang langsung bersama-sama kaum buruh. Dia bukan tipe pemimpin yang hanya duduk di belakang meja ruangan ber-AC. Ada hasil yang dirasakan bersama buruh se-Indonesia," tegas Hilman.
Itulah sebabnya, imbuh Hilmn, kader FSPMI dan KSPI tidak ambil pusing terhadap fitnah dari orang-orang yang tidak suka gerakan buruh menjadi kuat. Terlebih, Said sudah membantah membangun rumah dari iuran serikat pekerja.
Untuk diketahui, papar Hilman, iuran serikat pekerja FSPMI dan KSPI diaudit setiap tahunnya oleh akuntan publik yang tersumpah.
"Keuangan FSPMI diaudit oleh akuntan publik yang tersumpah tersebut sudah dilakukan dari 15 tahun yang lalu. Jauh sebelum fitnah ini berseliweran," terangnya.
Selain diaudit, iuran serikat pekerja dipertanggungjawabkan sesuai mekanisme organisasi dalam Rapat Pimpinan (Rapim) dan Kongres. Bahkan, anggota mendapatkan laporan hasil audit akuntan publik tersebut. Makanya, anggota KSPI dan FSPMI tidak akan termakan fitnah ini. Bahkan diyakininya soliditas dan solidaritas perjuangan kaum buruh makin kuat.
"Mereka tetap percaya kepada pemimpin buruh termasuk dengan Said Iqbal yang mereka percaya tidak akan memperkaya diri, termasuk memiliki rumah dari iuran buruh apalagi menjadi agen asing," ujar Hilman, menekankan.
Adapun iuran yang terkumpul peruntukannya 60 persen didistribusikan ke seluruh Dewan Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, dan Konsulat Cabang di seluruh Indonesia, di 25 provinsi dan 150 kab/kota untuk menjalankan kegiatannya. Selain itu, 12,5 persen untuk membayar honorarium staff full timer organisasi yang tersebar di 25 provinsi dan 150 kabupaten/kota. Sisanya untuk berbagai kegiatan seperti rapat rutin nasional, konsolidasi di daerah-daerah, dan pendidikan swadaya dan lain-lain.
Hilman juga menyampaikan, saat ini Said Iqbal masih tercatat sebagai karyawan di perusahaan multi nasional dengan upah yang relatif tinggi dengan masa kerja hampir 30 tahun. Istrinya juga memiliki usaha kontraktor kecil-kecilan.
"Rumah yang dibangun Presiden KSPI dan FSPMI Said Iqbal berasal dari dana yang diperoleh secara halal dan baik," tegasnya.
Aset yang dimiliki Said Iqbal itu sejak 15 sampai 20 tahun lalu, yang baru-baru ini dijual dan harganya melonjak berkali-kali lipat karena letaknya yang strategis. Said Iqbal bisa membangun rumah karena baru saja menerima dana pensiun dini dari tempatnya bekerja dengan nilai yang sangat lumayan.
"Itulah sebabnya Iqbal tidak banyak bicara ketika kehidupan pribadinya diserang dan di fitnah. Karena baginya perjuangan kaum buruh ingin dipisahkannya dari kehidupan pribadinya," kata Hilman lagi.
Hilman juga meyakinkan Said Iqbal berusaha mencari rizki yang halal dan baik, tidak menggerogoti organisasi serta tidak menjual buruh.
"Iqbal percaya, perubahan nasib kaum buruh hanya bisa diubah oleh buruh itu sendiri secara bersama dengan pemimpin buruh yang amanah dan istiqomah walaupun banyak ujian dan fitnah yang menerjang," ujar Hilman.
Anggota FSPMI dan KSPI justru bangga memiliki pemimpin yang mampu mensejahterakan keluarganya.
"Pemimpin seperti itulah yang kami cari. Dengan memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, sebagai pemimpin tidak akan mengambil hak anggota," jelasnya.
Ia melihat serangan rumah mewah, penyelewengan penggunaan iuran, tuduhan memperkaya diri sendiri, selalu muncul dalam momentum perjuangan besar kaum buruh. Seperti saat momentum mayday, kongres, atau Rakernas KSPI dan FSPMI, mogok nasional, dan aksi-aksi besar lainnya yang mengkritisi kebijakan pemerintah yang pro kepada pengusaha.
"Bahwa iuran serikat buruh, katakanlah FSPMI, mencapai milyaran rupiah, itu adalah benar. Bukankah ini suatu keberhasilan? Sesuatu yang layak untuk dibanggakan," akuinya.
Di saat banyak organisasi justru menengadahkan tangan meminta bantuan dana hibah dari pemerintah, bergerak jika ada yang memodali sehingga pantas jika disebut sebagai pasukan nasi bungkus, serikat buruh bisa mandiri.
"Harusnya semua organisasi meniru kaum buruh dan serikatnya. Bukannya justru berusaha menghancurkan organisasi yang sudah mapan ini," tukasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: