Yenny Wahid Dinilai Bermanuver Soal Sekulerisme Demi Citra Jokowi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Jumat, 14 April 2017, 15:42 WIB
Yenny Wahid Dinilai Bermanuver Soal Sekulerisme Demi Citra Jokowi
Yenny Wahid/Net
rmol news logo Penegasan Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid soal bahaya sekularisme diterapkan di Indonesia dinilai sebagai sikap hipokrit dan retorika.

Ketua Progres '98 Faizal Assegaf bahkan menuding pernyataan itu sebagai manuver Yenny Wahid demi berupaya meredam kemarahan umat kepada Presiden Joko Widodo yang bertindak fatal saat meminta rakyat memisahkan urusan agama dan politik.

“Yenny Wahid dan kelompok liberalis cenderung hipokrit dalam merespon fenomena kebangkitan Islam. Kecaman mereka atas bahaya sekularisme demi menyelamatkan citra Jokowi yang kian ambruk,” tegas Faizal dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (14/4).

Menurutnya, kiprah Yanny Wahid dan kelompok liberal di panggung politik justru telah ikut berkontribusi dalam menyuburkan paham sekularisme di kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Isu intoleran, anti Pancasila, radikalisme dan stigma teroris pada kelompok Islam yang giat disuarakan oleh Yenny Wahid dan kelompok liberalis adalah bukti sejatinya mereka penyokong proyek sekularisasi di negeri ini,” serunya.

Kemunculan gelombang Aksi Bela Islam yang dimotori Habib Rizieq Syihab dan para ulama kritis lainnya, dinilai Faizal telah membuat kepanikan luar biasa bagi kelompok liberal yang bersarang di tubuh NU. Sehingga, wajar jika  mereka kian terpojok dan menjadi sorotan umat secara serius.

"Situasi dilematis yang dihadapi membuat mereka terpaksa melepas openg sekularisme agar tidak tersapu oleh arus kebangkitan Islam,” tegas Faizal Assegaf.

Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid dalam acara diskusi publik bertema Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa di Jakarta, kemarin, Kamis (13/4) secara mengejutkan mengkritik keberadaan paham sekularisme. Kata dia, sekulerisme tidak memungkinkan untuk diadopsi di Indonesia.

"Tidak mungkin sekularisme diterapkan di sini. Kalau dilakukan, maka akan memberikan ruang kepada atheis," kata Yenny.

Pandangan Yenny ini muncul saat pernyataan Presiden Jokowi yang mengimbau rakyat agar memisahkan agama dan politik tengah mencuat.  [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA