Bentuk Kemunduran, Putaran Pertama Sarat Nuansa Sara

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 17 Maret 2017, 21:48 WIB
Bentuk Kemunduran, Putaran Pertama Sarat Nuansa Sara
Net
rmol news logo Nuansa suku, agama, ras, antar golongan (Sara) sangat terasa di Pilkada DKI Jakarta putaran pertama 15 Februari lalu. Hal itu menjadi sebuah kemunduran karena masih ditemukan pemilih dengan pertimbangan faktor etnis dan agama dalam memberikan suaranya.

Menurut peneliti Pusat Data Bersatu (PDB) Agus Herta Soemarto, kondisi tersebut seperti kembali ke zaman kolonial.

"Penduduk dibagi-bagi berdasarkan golongan tertentu, seperti golongan Eropa, Indo, Timur Asing, dan Bumiputera. Jika ini tetap dibiarkan maka akan membahayakan persatuan," katanya dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta (Jumat, 17/3).

Agus menjelaskan, data pihaknya menunjukkan bahwa hasil Pilkada DKI putaran pertama lalu yang dibagi menjadi wilayah non muslim dan muslim, baik pasangan calon nomor urut dua maupun tiga unggul di masing-masing wilayah.

Pasangan petahana nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat (Ahok-Djarot) ungggul hampir 90persen di Kelapa Gading Timur, Gondangdia, Mangga Besar dan Glodok. Sisanya diperoleh pasangan rival Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi).

Sementara di Tegal Parang, Rawa Terate, Kali Baru, dan Sukabumi Selatan yang mayoritas warganya muslim lebih unggul pasangan Anies-Sandi dengan hampir 65 persen, dan sisanya dipegang Ahok-Djarot.

Agus menambahkan, PDB menemukan indikasi kuat adanya penggunaan solidaritas etnis tertentu saat menentukan pilihan dukungan yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Hal ini terjadi setelah pelaksanaan putaran pertama.

"Namun setelah pelaksanaan pilkada putaran satu ada indikasi kuat mulai terjadinya pergeseran dari heterogenitas ke homogenitas," imbuhnya. [wah] 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA