Hal ini bisa dilihat dari besarnya alokasi dan realisasi anggaran pilkada dimulai 2012 ke 2016. Di mana, dana bansos dan hibah mengalami kenaikan tegak lurus seperti diperuntukkan dalam mendulang suara.
"Tapi bila melihat dalam realisasi anggarannya ada pola yang berbeda. Ini bisa dipotret pada dua pilkada yakni pilkada tahun 2017 dan 2012," ujar Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi dalam diskusi di kawasan Cikini‎, Jakarta, Minggu (23/10).
Dijabarkannya, pola pada Pilkada Bekasi 2017, ‎permainannya adalah ada anggaran bansos yang setiap tahun meningkat. Di tahun 2016 saja, alokasi anggarannya sebesar Rp 122,1 miliar. Sedangkan pada pilkada tahun 2012 pola anggarannya adalah dana hibah‎ yang ditingkatkan hingga Rp 112,2 miliar
‎"Bantuan bansos untuk orang miskin ini sangat mencurigakan untuk mendulang suara. Dan agar kepala daerah dinilai sebagai pro rakyat," pungkas Uchok.
[wah]
BERITA TERKAIT: