Basarah yang juga berperan sebagai moderator saat sesi pemaparan Risma sampai kewalahan dengan banyaknya yang ingin bertanya kepada Risma. Pertanyaan yang diajukan mulai dari soal urusan domestik atau Risma sebagai ibu rumah tangga hingga perannya sebagai pejabat publik.
"Saya tiap pagi masih menyiapkan baju dan sepatu suami saya. Malam saya masih cek. Besok ada apa. Tapi memang sering saya pulang, suami sudah tidur. Saat saya disumpah jadi walikota, saya diminta mendahulukan kepentingan masyarakat. Jadi itu yang saya dahulukan," katanya dalam rapat kerja daerah DPD PDI Perjuangan Aceh di Banda Aceh (Sabtu, 6/8).
Dalam pemaparannya, Risma berusaha membangun optimisme agar struktur PDIP di Aceh untuk percaya diri dan bersemangat memenangkan pilkada 2017 termasuk tips dan resep melawan money politics. Bahkan Risma mengatakan dirinya siap tampil sebagai juru kampanye di pilkada Aceh tahun depan, bila diminta dan ada surat permintaan resmi sehingga dirinya bisa mengajukan izin ke Gubernur Jawa Timur.
Secara khusus, Risma menceritakan kaitan dirinya dengan dua organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
"Saya ini cucuny pendiri NU. Tapi saya sekolahnya di Muhammadiyah. Saya itu jadinya campuran," kata Risma sambil tersenyum.
Sementara, berbicara sebelum Risma, Baskara menjelaskan posisi ideologis Bung Karno dalam perjuangan nilai partai PDIP.‎ Dia juga banyak mengungkap sejarah Bung Karno saat persiapan kemerdekaan dan kaitannya dengan sejumlah tokoh asal Aceh.
Usai berbicara, Risma dan Baskara jadi sasaran untuk diajak berfoto. Risma dengan sabar melayani permintaan itu. Tapi dia juga menyampaikan celetukan kepada kader yang antri untuk berfoto.
"Yang saya sampaikan dilaksanakan lo. Jangan sampai tidak. Malu kita. Masak gak dapat kursi di Aceh," demikian Risma.
[ysa]
BERITA TERKAIT: