"Teten pantas dicopot karena tidak kapable menjabat sebagai KSP," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM) Fahmi Hafel dalam keterangan kepada redaksi.
Dia mengungkapkan ada sejumlah bukti kegagalan Teten. Pertama, Teten tidak mampu membangun komunikasi yang efektif dan efisien antara kementerian dan lembaga dengan presiden. Kedua, Teten gagal mengurangi ego sektoral yang terjadi antar lembaga dan departemen yang berakibat pada tidak jalannya program yang dicanangkan oleh presiden.
"Banyak program pemerintah yang masih tersendat," imbuhnya.
Ketiga, Teten gagal membangun hubungan baik antara Presiden dengan DPR. Hal ini terlihat dalam penyusunan APBN 2016, dimana seharusnya Teten membantu Menkopolhukam melakukan lobi-lobi politik ke DPR sehingga bisa terjadi kata sepakat.
Sebaliknya, kata dia, Teten selaku Kordinator Tim Komunikasi Presiden malah kerap menyampaikan pernyataan-pernyataan blunder. "Celana kolor seragam Papua", dan "APBN akan kolaps jika kontrak Freeport tidak diperpanjang", adalah dua contoh dari pernyataan Teten yang menyakitkan perasaan masyarakat, menyesatkan dan sangat manipulatif.
"Pernyataan Teten terkait perpanjangan kontrak Freeport sangat meremehkan kemampuan Jokowi dalam melakukan negosiasi, sekaligus meremehkan cita-cita Jokowi membangun Indonesia dengan Trisakti dan Nawa Cita," tukas Fahmi.
[dem]
BERITA TERKAIT: