"Ini Presiden Jokowi kemana saja? Jangan bunuh masyarakat saya (Jambi) berlahan-lahan," kata anggota DPR Fraksi Partai Gerindra dari Dapil Jambi, Sutan Adil Hendra (SAH) kepada redaksi, Rabu (14/10).
Data yang ia peroleh, di Jambi sudah ada dua anak yang meninggal akibat kabut asap, yaitu Hanin (12 tahun) dan Nabila (15 bulan) serta sebanyak 50 ribu orang yang terinfeksi infeksi saluran pernapasan akut (ispa).
"Apakah pemerintah ini menunggu korban lain? Pemerintah ini edan. Presiden Jokowi jangan macam-macam, kalau mau bunuh masyarakat saya (Jambi), langkahi dulu mayat saya," tegas SAH.
Ia pun menuding Jokowi tidak mengerti soal keadilan. Menurutnya, kalau kabut asap ini terjadi di Jakarta atau di Jawa, pemerintah dengan semua kekuatan akan berusaha memadamkan api itu hingga padam.
SAH melanjutkan, dengan tidak menetapkan kabut asap akibat kebaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan sebagai bencana nasional menjadi alasan bencana itu lama bisa diselesaikan.
Menurutnya, kalau ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganannya akan fokus. Karena dengan otomatis personil, peralatan dan anggaran akan tersedia, serta sistem koordinasinya akan rapi.
Sebelumnya dalam Sidang Paripurna DPR Selasa (13/10) kemarin, SAH juga sempat lantang mengajukan interupsi meminta pimpinan dan semua anggota dewan agar mendesak pemerintah lebih serius untuk menangani bencana asap.
Sementara Sekretaris Nasional (Seknas) Serikat Boemi Poetera, Abdullah Rasyid juga sempat mendesak para ketua umum parpol untuk mencopot anggota dewan yang berasal dari Jambi. Ini lantaran mereka hanya diam saat melihat penderitaan rakyat Jambi yang terkena musibah asap.
[ian]
BERITA TERKAIT: