"Kalau koalisi PDIP dan Golkar sudah pernah tahun 2004. Putaran kedua pilpres, kita berdiskusi sampai tengah malam, Golkar tentukan kasih dukungan ke Mega-Hasyim," jelas Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar, Akbar Tanjung ketika bertandang ke redaksi
Rakyat Merdeka Grup di Jakarta (Rabu, 5/2).
Ia menyebut bahwa dukungan tersebut muncul atas dasar pertimbangan bahwa Megawati merupakan sosok yang dibentuk dari sistem kepartaian.
"Dalam perubahan yang kita lakukan dalam kehidupan reformasi demokrasi, kepemimpinan nasional adalah orang yang memang dibesarkan di dalam produk kepartaian," jelasnya.
"Mega sebagai Ketua Umum PDIP dan calon presiden lebih relevan," lanjutnya.
Lebih lanjut Akbar menyebut bahwa saat itu Golkar dan PDIP juga telah membentuk koalisi kebangsaan agar mempersiapkan kehidupan politik untuk membangun dua sisi kekuatan, yakni sisi pemerintah dan kekuatan penyeimbang. Akan tetapi koalisi kebangasaan tersebut tak terlaksana ketik Jusuf Kalla (JK) menjabat wakil presiden dan menjadi ketua umum Golkar.
"Tapi yang menang adalah SBY. Waktu itu kita sudah mempersiapkan jadi kekuatan penyeimbang. Tapi yang terjadi ketika Munas Golkar, yang menang adalah Jusuf Kalla. Dia jadi Ketua Umum dan bawa nama Golkar jadi kekuatan pendukung pemerintah," bebernya.
Sejarah koalisi yang pernah dibentuk antara partai beringin dan partai banteng moncong putih tersebut bukan tidak mungkin kembali dijalin pada Pemilu 2014 ini.
"Jadi kalau ke depan kita bangun koalisi, bisa jadi yang kita bangun itu muncul kembali. Apalagi Golkar dan PDIP punya kesamaan komitmen kebangsaan," kata Akbar.
Namun Akbar menegaskan bahwa koalisi baru akan dipertimbangkan pasca pemilu legislatif.
"Tapi semua kembali pada hasil pemilu legislatif nanti," tandasnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: