"Film ini tidak ahistoris, malah kita risetnya lebih dalam, membaca sejarah-sejarah Soekarno, dan menggali informasi dari orang-orang yang tahu tentang Soekarno," kata Hanung ketika berkunjung ke redaksi
Rakyat Merdeka Online, Gedung Graha Pena lantai 9, Jakarta (Jumat, 20/12).
Sineas muda itu mengatakan, tentu tidak mungkin mengangkat sosok Soekarno dari lahir sampai meninggal secara utuh dalam satu film karena ada batasan durasi. Hanung sempat bingung periode perjalanan Soekarno yang mana yang mau diangkat. Memecah kebingungan itu, Hanung membentuk forum group discussion (FGD) yang diisi sejumlah sejarahwan dan periset untuk mendapat gambaran.
FGD sendiri diadakan di Hotel Novotel Bogor. Sejarahwan yang dilibatkan bukan hanya yang berpandangan pro dengan Soekarno, tetapi juga dengan yang berseberangan. FGD juga dibentuk agar sosok Soekarno yang ditampilkan dalam film tidak melebar kemana-mana.
Hanung menyebut tudingan pelecehan karena ada adegan Soekarno merangkul Fatmawati dalam film sangat berlebihan. Dan ada banyak tudingan lain yang menurutnya justru didasarkan atas penggambaran dalam film tapi tidak ditempatkan pada konteksnya. Konteks penggambaran Soekarno merangkul Fatmawati, katanya, adalah bukan sedang berpacaran.
"Itu konteksnya Soekarno sebagai guru dan Fatmawati sebagai seorang murid. Kan wajar kalau guru merangkul muridnya," kata Hanung sambil mengangkat tangannya memeragakan.
[dem]
BERITA TERKAIT: