Demikian diungkapkan Sekjen Lisuma, Dhika Yudistira melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi pagi ini, (MInggu, 4/8).
Dijelaskan Dhika, begitu Lisuma dalam aksi Gerakan Sembako Mahal (GSM) mendapat serangan pemberitaan negatif di berbagai media tentang pendemo bayaran, dirinya segera mengontak jaringan media yang dimiliki untuk mengklarifikasi berita tersebut. Klarifikasi itu berangkat dari pola berita sama yang dimuat oleh media yakni nara sumber yang sama dengan bayaran.
Lebih lanjut Dhika sudah mengecek narasumber dan nama yang disebut tidak ada. Keanehan lain adalah, penulisan berita menggunakan pola yang sama. Padahal rekan-rekan wartawan dalam menulis berita pasti selalu menggunakan angle yang kuat tetapi berbeda terutama dalam narasumber.
"Bagaimana mungkin wartawan mewawancarai hanya satu orang narasumber saja dengan pola pemberitaan yang sama. Itu katanya wawancara langsung. Gita belum menjadi presiden saja sudah melakukan pembohongan publik bagaimana kalau menjadi presiden," ujarnya.
Lisuma kemudian melalui bidang risetnya menelusuri jejak rekam aksi demo terhadap Gita Wirjawan yang pernah terjadi. Pada pemberitaan demo petani 12 September 2012, digunakan pola yang sama yaitu “pendemo dibayarâ€. Dan kali ini juga, Lisuma diserang berita negatif dengan konten “pendemo dibayarâ€.
"Kami sudah tahu siapa yang melakukan kampanye negatif tersebut berdasarkan informasi jaringan media kami. Orang tersebut berinisial KS. Kali ini Lisuma yang menjadi korban penggembosan, padahal kami murni gerakan rakyat," terang Dhika.
Masih kata dia, sungguh ironis seorang mentri perdagangan melakukan sebuah serangan balik melalui media dengan memfitnah pihaknya adalah masa bayaran, di saat berteriak karena tercekik harga-harga sembako semakin mahal. Dan dalam aksi Lisuma pun tidak pernah mengangkat mengenai dia mau mencalonkan diri sebagai presiden pada 2014 nanti ataupun mengenai konvensi partai demokrat, karena aksi Lisuma murni mengenai mahalnya harga sembako dan kebijakanya yang instan dan tidak pro rakyat ataupun pro produk lokal.
"Dengan cara dia menfitnah kami dan menggiring isu mengenai pencalonan dia 2014 malah semakin terlihat ambius seorang Gita Wirjawan. Baru jadi mentri saja didemo masyarakat sudah menfitnah melalui media apalagi kalau jadi Presiden. Saya yakin pun saat ini masyarakat sudah cerdas saat ini," jelas Dhika.
"Sangat disayangkan Gita wirjawan malah memfitnah di beberapa media terkait kami masa bayaran, padahal itu jelas kebohongan karena tidak ada nama orang (Arda) dalam wawancara rillis tersebut, terus tidak ada yang merasa diwawancara.
Hari ini nama Lisuma menjadi tercoreng di dunia gerakan. Banyak pesan BMM bermuncula serta Twitter saya diserang habis-habisan karena dituduh demonstran bayaran. Padahal kami murni untuk rakyat," tambahnya.
Dhika mengahiri, pihaknya tak akan berhenti walaupun difitnah atau sekalipun kami masuk teralis besi, asalkan masyarakat tidak semakin tercekik oleh harga sembako yang meroket karena kebijakan-kebijakan Gita Wirjawan yang instan.
"Kami akan terus turun ke jalan dan akan semakin banyak. Saya percaya kebenaran akan menang dan kebohongan akan terbongkar," pungkasnya.
[rus]
BERITA TERKAIT: