Ia mengumumkan sayembara terbuka untuk publik, dengan imbalan uang tunai Rp1 juta bagi siapa pun yang mampu mengungkap identitas akun-akun penyebar fitnah tersebut.
Uya menyebut, sayembara ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan bentuk partisipasi masyarakat untuk membantu aparat penegak hukum.
Ia meminta siapa saja yang memiliki informasi valid dan lengkap terkait akun-akun penyebar hoaks agar segera menghubunginya. Jika data yang diberikan terbukti benar, ia memastikan hadiah akan diberikan sesuai janji.
"Rp1 juta masing-masing. Nah, kalau memang tepat ya, benar ya," kata Uya kepada wartawan, dikutip Rabu, 22 April 2026.
Langkah ini diambil setelah dirinya berkaca dari pengalaman pahit sebelumnya. Ia mengaku masih dibayangi trauma akibat insiden penjarahan rumahnya pada Agustus 2025, yang disebut dipicu oleh maraknya informasi palsu tentang dirinya yang beredar luas di media sosial.
Menurut Uya, hoaks tersebut berasal dari potongan video lama yang diedit ulang dengan tambahan narasi menyesatkan. Konten-konten itu kemudian disebarkan secara masif hingga membuat publik percaya bahwa pernyataan dalam video tersebut benar-benar berasal darinya.
"Itu kan bukan omongan saya, saya enggak pernah ngomong begitu," ujarnya.
Merasa tak bisa lagi tinggal diam, Uya akhirnya memilih jalur hukum. Ia mengungkapkan telah melaporkan sejumlah akun di berbagai platform media sosial seperti X, Threads, dan Instagram ke pihak kepolisian. Laporan tersebut telah diajukan ke Direktorat Siber Polda Metro Jaya pada Sabtu malam.
BERITA TERKAIT: