"Memang dia paling populer, bahkan mengungguli Ahmad Heryawan, tapi populer belum tentu bisa jadi pemenang," kata pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, kepada
Rakyat Merdeka Online, Rabu (10/10).
Diakui dia, tingginya popularitas Dede Yusuf memang membuat potensi dirinya dipilih masyarakat Jabar juga tinggi. Namun, ada banyak faktor lain yang bisa membuat Dede mengalahkan calon-calon lainnya, diantaranya Ahmad Heryawan yang disusung PKS.
Dia mencontohkan kasus Fauzi Bowo dalam Pemilukada DKI beberapa waktu lalu. Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli unggul dalam survei, disebut-sebut punya popularitas dan elektabilitas tinggi, tapi kenyataannya suara dukungan mereka dalam pemilihan jeblok, kalah dari pasangan Jokowi-Ahok
"Dede Yusuf harus belajar dari apa yang dialami Fauzi Bowo. Keunggulan survei belum tentu bisa menang secara politik," katanya.
Asep menyarankan, Dede Yusuf yang diusung Partai Demokrat menggandeng calon wakil gubernur yang bisa "mengamankan" dan menambah suara. Koalisi dengan partai politik dengan basis dukungan mengakar di Jabar jadi salah satu pilihan. Pilihan lainnya, menggandeng figur yang memang punya potensi jual yang kuat.
"Dede Yusuf bisa maju dengan figur dari unsur birokrasi Jabar, akademisi atau kader partai lain, misalnya dengan Rahmat Yasin dari PPP. Atau bisa juga dengan Rieke Diah Pitaloka dari PDIP," tandasnya.
[dem]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: