Emas bertahan di atas level 4.100 Dolar AS per ons, sementara perak diperdagangkan di kisaran 61 Dolar AS per ons, didorong oleh melemahnya data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang memicu perubahan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.
Laporan terbaru menunjukkan ekonomi AS hanya menciptakan 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah proyeksi pasar yang mencapai 110.000 dan menjadi penambahan terendah dalam empat bulan terakhir. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,2 persen.
Data tersebut melengkapi laporan sebelumnya yang juga memperlihatkan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta berada di bawah perkiraan.
Kondisi itu membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed. Kontrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan probabilitas sekitar 50 persen untuk kenaikan suku bunga pada September, turun dari sekitar 67 persen sebelum data ketenagakerjaan dirilis.
Sentimen positif bagi logam mulia juga diperkuat oleh pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang menilai ekspektasi inflasi mulai mereda, meski bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga.
Selain itu, penurunan harga minyak turut memberikan dukungan bagi emas dan perak. Kekhawatiran terhadap inflasi berangsur mereda seiring pulihnya aktivitas pengiriman komersial melalui Selat Hormuz di tengah kemajuan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kombinasi ekspektasi suku bunga yang lebih longgar, inflasi yang mulai terkendali, serta meredanya risiko geopolitik menjadi faktor utama yang menopang pergerakan harga emas dan perak pada akhir pekan ini.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: