Untuk itu, dalam rangka menghadapi rencana Pemilu yang akan dilaksanakan pada Desember 2015 nanti, pemerintah beserta misi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) di CAR, MINUSCA (United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) melakukan operasi pelucutan senjata atau DDR (Disarmament Demobilization Reintegration) untuk memastikan Pemilu dapat berjalan damai nantinya.
Seperti dikutip dari rilis Perwira Penerangan Konga XXXVII-A/Minusca, Mayor Kav Eddy Wijaya yang diterima redaksi (Selasa, 7/7), disebutkan bahwa saat ini masih banyak senjata serta munisi dan bahan peledak yangdipegang oleh milisi maupun masyarakat sipil. Kondisi ini menjadi perhatian khusus PBB, sehingga dilakukan proses DDR kemudian akan ditindaklanjuti dengan proses disposal (pemusnahan). Proses tersebut melibatkan pasukan Zeni yang memiliki kemampuan pendeteksian bahan peledak, termasuk pasukan perdamaian Indonesia.
Berkaitan misi ini, sejak kemarin (Senin, 6/7), satu tim penjinak bahan peledak Satgas Kizi TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-A/Minusca melakukan pendeteksian di sebuah perkampungan yang terletak di Camp Beal, Bangui ibu kota CAR yang selama ini dikenal sebagai basis Milisi Seleka. Kegiatan tersebut melibatkan unsur tim Jihandak dengan perlengkapan Body Armor, Mine Detector, Bomb Blanket, Discrupter, Hook and line set.
Dipimpin oleh Perwira Seksi Operasi Lettu Czi M. Iqbal bersama beberapa personel UNMAS (United Nation Mine Action Service) yaitu salah satu badan PBB yang mengurusi persoalan bahan peledak dan ranjau di negara-negara konflik dengan perkuatan pengamanan dari peleton pengamanan, Satgas bersama dua unit Ranpur Anoa V2 serta pengamanan ring luar oleh Infanteri dari Congo Battalion dan Gabon Battalion bergerak menuju lokasi.
Lokasi yang dituju berupa gudang tua milik angkatan bersenjata CAR, FACA (Forced Armees Centraficaine) yang hingga kini masih dibekukan oleh pemerintah akibat keterlibatan mereka saat terjadi konflik tahun 2013 lalu. Dapat digambarkan, kondisi lokasi masih rawan kontak senjata serta belum diketahui jumlah dan besaran kekuatan bahan peledak sehingga menjadi kesulitan tersendiri bagi tim Jihandak Konga XXXVII-A/Minusca.
Setelah dilakukan proses deteksi dan identifikasi selama satu jam terhadap tumpukan bahan peledak berupa ranjau anti-tank, granat tangan, roket, penggalak roket, TNT blok, munisi Mortir 60 serta munisi kaliber 7,62 dengan berat seluruhnya sekitar enam ton, lokasi baru dinyatakan aman. Proses selanjutnya adalah melakukan evakuasi terhadap semua bahan berbahaya tersebut ke tempat yang aman.
Proses pemusnahan dilakukan setelah muncul hasil proses DDR di daerah-daerah lain.Untuk saat ini, seluruh bahan peledak tersebut dikumpulkan oleh UNMAS di tempat yang aman.
[wid]
BERITA TERKAIT: