Kalimantan Diselimuti Asap Karhutla, Begini Penampakannya dari Satelit NASA

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/tifani-5'>TIFANI</a>
OLEH: TIFANI
  • Sabtu, 05 September 2026, 18:31 WIB
Kalimantan Diselimuti Asap Karhutla, Begini Penampakannya dari Satelit NASA
Kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terekam dalam citra satelit milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) (Sumber: @NASA)
Kecil Besar
rmol news logo Kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terekam dalam citra satelit milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Dalam citra tersebut, sebagian besar wilayah Kalimantan tampak tertutup lapisan asap tebal berwarna putih keabu-abuan.

Citra satelit tersebut diambil pada Selasa (1/9/2026) menggunakan instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang terpasang pada satelit Aqua milik NASA. NASA kemudian merilis gambar tersebut pada Jumat (4/9/2026) melalui akun X.

Dari citra yang dirilis, kepulan asap terlihat menyelimuti sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan. Kondisi tersebut membuat sejumlah kawasan di pulau yang kerap disebut sebagai salah satu paru-paru dunia itu nyaris tidak terlihat dari pengamatan satelit.

Selain kepulan asap, citra NASA juga memperlihatkan ratusan titik merah yang tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan. Titik-titik tersebut menunjukkan anomali panas atau hot spot yang terdeteksi oleh instrumen MODIS.

Pengamatan satelit NASA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) turut dimanfaatkan Indonesia untuk memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan. Sensor MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) digunakan untuk mendeteksi titik panas atau anomali suhu permukaan secara near-real-time.

Salah satu platform pemantauan kebakaran yang digunakan pemerintah adalah SiPongi milik Kementerian Kehutanan. Berdasarkan data SiPongi, tercatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.

Data titik panas tersebut dapat menjadi salah satu indikator untuk memantau potensi kebakaran dan menentukan wilayah yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.

Asap Tebal Bisa Menghambat Deteksi Titik Api

Meski pengamatan satelit menjadi salah satu teknologi penting dalam pemantauan karhutla, sensor MODIS dan VIIRS memiliki keterbatasan dalam mendeteksi kebakaran. Api yang tertutup asap sangat tebal, awan, atau berada di bawah kanopi hutan dapat lebih sulit terdeteksi oleh sensor satelit. 

Hal serupa juga dapat terjadi pada kebakaran yang berlangsung di bawah permukaan tanah gambut. Karena itu, jumlah titik panas yang terdeteksi satelit tidak selalu menggambarkan jumlah kebakaran yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Bahkan, ketika kebakaran hutan dan lahan mencapai kondisi paling parah, jumlah api yang terdeteksi MODIS maupun VIIRS dapat terlihat menurun. Penurunan tersebut tidak selalu berarti kebakaran mereda, tetapi dapat terjadi karena api tertutup asap tebal sehingga lebih sulit ditangkap oleh sensor satelit.

Citra terbaru NASA yang memperlihatkan kepulan asap tebal di atas Kalimantan pun menjadi gambaran kondisi karhutla yang tengah terjadi. Pengamatan satelit tetap menjadi bagian penting dalam pemantauan, tetapi perlu dikombinasikan dengan data dan pengamatan dari lapangan untuk mendapatkan gambaran kondisi kebakaran secara lebih menyeluruh.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: TIFANI

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA