Plt Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Berton Pandjaitan membeberkan, situasi di lapangan sejatinya masih terus dikendalikan secara intensif oleh satgas gabungan yang bersiaga 24 jam.
"Luas lahan terbakar telah mencapai 8.620 hektare," kata Berton dalam keterangannya secara daring melalui kanal YouTube BNPB.
Untuk menjinakkan kobaran api di darat, sebanyak 9.800 personel gabungan dikerahkan. Aksi ini turut mendapat sokongan dari tujuh perusahaan swasta di Kalsel yang menerjunkan personel beserta peralatan pemadaman pendukung.
Meski begitu, upaya pemadaman di lapangan menemui benteng tebal. Angin kencang dan kekeringan ekstrem yang memicu krisis sumber air menjadi ganjalan utama petugas, terlebih mayoritas titik api berada di area lahan gambut.
"Beberapa titik lahan di Kalsel sejatinya telah berhasil dipadamkan dan dilakukan pembasahan. Namun, beberapa hari setelahnya api kembali muncul. Sumber air sangat terbatas mengingat saat ini masih puncak musim kering," beber Berton.
Siasat darurat pun ditempuh. BNPB memaksimalisasi armada mobil tangki air serta memanfaatkan hidran kota, khususnya untuk mengamankan wilayah rawan seperti Banjarbaru.
Di jalur udara, sebanyak sembilan armada pesawat patroli dan helikopter
waterbombing terus dikerahkan melancarkan bombardir air. Sayangnya, strategi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan belum bisa dieksekusi lantaran minimnya potensi pertumbuhan awan di langit Kalsel.
BERITA TERKAIT: