Petugas penyusun laporan aktivitas Gunung Merapi, Yulianto, mencatat aktivitas ini dalam pengamatan sepanjang Jumat 2 Oktober 2026.
Berdasarkan catatan Yulianto, Gunung Merapi berada pada tingkat aktivitas Level III atau Siaga.
Yulianto mengungkapkan bahwa sepanjang hari kemarin teramati sembilan kali guguran lava pijar.
Dikutip dari
RMOLJateng, guguran lava tersebut meluncur ke arah Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Boyong. Jarak luncur maksimum guguran lava ini mencapai hingga 2.000 meter dari puncak kawah.
Meluncurnya guguran lava pijar tersebut terjadi seiring dengan kemunculan delapan kali gempa vulkanik dangkal.
Yulianto menjelaskan bahwa gempa vulkanik dangkal ini menunjukkan adanya tekanan dan pergerakan magma yang sangat dekat dengan permukaan kawah.
Tekanan magma yang dangkal ini mendorong kubah lava hingga retak dan menjadi tidak stabil. Kondisi tersebut secara langsung memicu runtuhnya material lava pijar dan meluncur deras ke alur-alur sungai di lereng Merapi.
Selain gempa vulkanik dangkal, Yulianto juga mencatat tingginya frekuensi gempa guguran yang mencapai 85 kali kejadian. Di saat yang sama, terekam pula 48 kali gempa
hybrid atau fase banyak di tubuh gunung.
Rangkaian aktivitas kegempaan ini mengindikasikan bahwa suplai magma dari kedalaman hingga saat ini masih terus berlangsung aktif.
Untuk itu masyarakat diminta tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya.
Potensi ancaman saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya sejauh maksimal 7 kilometer.
Masyarakat di sekitar lereng Merapi juga diimbau selalu mewaspadai ancaman lahar hujan serta potensi paparan abu vulkanik.
BERITA TERKAIT: