Forum Ulama Tolak Suap dan Serangan Fajar Muktamar NU

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/diki-trianto-1'>DIKI TRIANTO</a>
LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Sabtu, 22 Agustus 2026, 10:52 WIB
Forum Ulama Tolak Suap dan Serangan Fajar Muktamar NU
Forum Ulama Nahdliyin (FUN) di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. (Foto: Dok. Pribadi)
Kecil Besar
rmol news logo Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Forum Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar Halaqah Jam’iyyah bertema “Menyelamatkan Marwah Syuriyah dan Kemuliaan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA)” di Jakarta.
HUT RMOL news

Ketua FUN, KH Mujib Qulyubi menegaskan, halaqah tersebut digelar guna menyatukan komitmen para pengurus syuriyah, tanfidziyah, serta puluhan pengasuh pesantren untuk menolak praktik risywah (suap) dan mengedepankan otoritas moral dalam muktamar.

“Tujuan utama sistem AHWA ini untuk menghindari politik uang, eh sekarang yang terjadi sebaliknya,” ujar Kiai Mujib dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Kiai Mujib menyayangkan pelaksanaan pedoman penyampaian usulan nama calon AHWA yang dinilai sarat penyimpangan. Indikasi praktik "tembak di tempat" serta paket pesanan dari institusi luar dinilainya sebagai bukti pelanggaran prosedural dan substansial.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta, KH Samsul Ma’arif, membeberkan islah yang sempat berlangsung antara Rais Aam Kiai Miftachul Akhyar dan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf sejatinya hanya formalitas di permukaan.

“Islah itu hanya lips service, formalistik. Sampai sekarang sejatinya tidak pernah ada islah antara keduanya,” tegas KH Samsul.

Sementara itu, KH Adnan Anwar menyoroti pentingnya calon Rais Aam dan Ketum PBNU mendatang untuk memahami dinamika geopolitik global. Ia menilai kepemimpinan saat ini gagal membaca ancaman terhadap Islam Indonesia dan lembaga pesantren.

"Beda sekali dengan zaman Kiai Said Aqil Siradj, saat itu pengkaderan jalan, universitas tumbuh, dan seterusnya," kata KH Adnan.

Mengenai kriteria figur dalam AHWA, Penasihat LBM PWNU DKI Jakarta, KH Mukti Ali Qusyairi menilai Kiai Said Aqil Siradj sebagai sosok yang paling memenuhi syarat kealiman dan ketertiban rekam jejak.

"Pilihannya hanya Kiai Said, beliau pernah mendampingi empat Rais Aam dan berjalan baik-baik saja, tidak ada persoalan maupun masalah penting seperti saat ini," ungkap Mukti.

Melalui halaqah ini, FUN mendorong seluruh muktamirin untuk kembali pada tajdidun niyat (pembaharuan niat) bahwa ber-NU adalah jalan khidmah, bukan tempat mencari keuntungan finansial. Muktamirin diimbau berani menolak "Serangan Fajar" dan menjaga kesucian stempel organisasi demi kemuliaan NU. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: DIKI TRIANTO

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA