Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Maria Veronica Irene Herdjiono, menjelaskan bahwa OPSI memiliki pendekatan yang berbeda dari ajang sains pada umumnya yang berfokus pada pengerjaan soal.
Melalui riset, peserta didorong untuk berpikir dalam menyelesaikan suatu permasalahan, termasuk memprediksi persoalan yang belum terjadi dan merancang solusinya.
“Kalau ajang lainnya anak-anak diminta untuk mengerjakan soal. Tapi kita untuk riset ini bukan mengerjakan soal, tapi berpikir menyelesaikan suatu permasalahan,” kata Maria dalam keterangan resmi yang diterima redaksi pada Rabu, 30 September 2026.
Ajang final OPSI ini turut mendorong pengembangan kemampuan peserta secara kolaboratif melalui Bina Talenta Indonesia.
Secara teknis, para peserta diarahkan untuk mengembangkan enam kompetensi utama yang dikenal sebagai 6C, yaitu critical thinking, creativity, collaboration, communication, character, dan citizenship.
Sementara itu, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, Prof. Maila Dinia Husni Rahiem, menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan dengan membiasakan siswa melakukan riset sejak dini.
“Karena bagi peneliti, ini bukan masalah kita pintar. Ini juga tentang kolaborasi dan jejaring. Pemerintah ingin memastikan bahwa talenta-talenta OPSI mendapatkan ruang tumbuh yang berkelanjutan melalui apresiasi dan partisipasi dari perguruan tinggi dan dunia industri,” jelas Maila.
Rektor UMJ, Prof. Dr. Ma’mun Murod, turut menegaskan bahwa kemampuan intelektual harus berjalan beriringan dengan karakter agar prestasi dapat terus berkembang di dunia pendidikan.
“Indonesia itu minim soal itu saja. Orang pintarnya banyak, tapi yang berkarakter, yang berintegritas itu yang minim,” imbuh Ma’mun Murod.
BERITA TERKAIT: