Misteri Punggung Bolong dan Teror Kelam di Film Lobang Buaya

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ananda-gabriel-5'>ANANDA GABRIEL</a>
OLEH: ANANDA GABRIEL
  • Kamis, 01 Oktober 2026, 20:13 WIB
Misteri Punggung Bolong dan Teror Kelam di Film Lobang Buaya
Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah/Net
Kecil Besar
rmol news logo Masa-masa menjelang pergolakan sejarah besar Indonesia kembali diangkat ke layar lebar melalui sudut pandang yang menegangkan.

Bertepatan dengan perilisan perdananya pada 1 Oktober 2026, film horor-misteri-thriller berjudul Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah resmi menyapa penonton di bioskop Indonesia. 

Disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan ditulis bersama Haqi Achmad, film ini menawarkan teror psikologis dan mistis yang berakar dari situasi sosial politik tahun 1964.

Berlatar belakang tahun 1964, cerita bermula ketika Desa Lobang Buaya di Jakarta digegerkan oleh penemuan jenazah dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Para korban ditemukan dengan punggung berlubang, disertai ukiran kata-kata tajam seperti "Tamak", "Lamis", hingga "Maruk" di dahi mereka.

Situasi ibu kota saat itu kian memanas akibat gesekan sosial, ketegangan politik, serta penolakan dan perkembangan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di tengah desas-desus dan rumor yang berkembang liar di masyarakat, Letnan Soegeng yang diperankan oleh Baskara Mahendra ditugaskan membantu pihak kepolisian mengusut rentetan pembunuhan berdarah yang konsisten terjadi setiap tanggal 30 tiap bulannya.

Penyelidikan tidak berjalan mudah di tengah pusaran konflik yang ada. Sejumlah saksi mata mengaku sempat melihat penampakan sosok setan perempuan berpunggung bolong sebelum jasad-jasad tersebut ditemukan.

Meski awalnya skeptis terhadap cerita mistis, Letnan Soegeng segera menyadari bahwa teror ini bukan kejahatan biasa.

Ketegangan semakin memuncak ketika istri baru Soegeng, Arum Wangi yang diperankan oleh Carissa Perusset, diteror oleh arwah perempuan misterius yang terus memanggilnya dengan sebutan "ronggeng".

Teror di rumah tersebut ternyata merupakan bagian dari sebuah ritual gelap yang dirancang secara sistematis untuk menabur ketakutan massal dan membelokkan arah sejarah.

Sebagai sutradara, Hanung Bramantyo mengungkapkan bahwa film ini dibuat khusus untuk menjangkau generasi muda agar tidak melupakan sejarah kelam Indonesia tahun 1965. Menurutnya, film bertema sejarah kerap sepi peminat di kalangan anak muda, sehingga pendekatan horor-thriller dipilih sebagai medium edukasi sejarah yang memikat.

Tidak hanya menyuguhkan ketakutan supranatural, film berdurasi untuk penonton dewasa (17+) ini juga mengangkat isu sosial mengenai kelompok "7 Setan Desa"—sebuah penggambaran simbolis terhadap pihak-pihak yang meresahkan masyarakat seperti birokrat korup, rentenir, hingga penguasa sumber daya.

Selain Baskara Mahendra dan Carissa Perusset, film produksi Adhya Pictures dan Dapur Films ini turut dibintangi oleh jajaran aktor papan atas seperti Khiva Iskak, Anya Zen, hingga Mathias Muchus.

Sebelum tayang di bioskop tanah air, Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah telah lebih dulu melanglang buana dan tayang perdana di International Film Festival Rotterdam pada 3 Februari 2026. Sebuah tontonan yang memadukan misteri mencekam sekaligus refleksi sejarah bangsa. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: TIFANI

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA