"Ada prestasi tingkat daerah, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan ada juga prestasi di tingkat internasional," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, dikutip dari keterangan tertulis Kemensos, Kamis 6 Agustus 2026.
Gus Ipul menerangkan, sepanjang 2025, siswa Sekolah Rakyat meraih 4 prestasi tingkat internasional, 674 tingkat nasional, 71 tingkat regional, 513 tingkat provinsi, 842 tingkat kabupaten/kota, 89 tingkat kecamatan, dan 1.347 tingkat sekolah.
"Banyak sekali dari anak-anak yang sebelumnya putus harapan dan sekarang mereka sudah berprestasi," kata Gus Ipul.
Di samping banyaknya prestasi yang diraih, Gus Ipul menyampaikan setelah satu tahun beroperasi, siswa Sekolah Rakyat juga menjadi lebih percaya diri, optimistis, dan lebih disiplin.
Hal tersebut dibuktikan dalam acara MPLS, dimana para siswa tahun pertama yang menyambut siswa baru, berani tampil di atas panggung, dengan berbagai pertunjukan.
Mulai dari penampilan baris variasi, silat, drama musikal, paduan suara, puisi serta pidato bahasa Inggris, Arab Mandarin, dan Korea.
Di sela penampilan tersebut, Gus Ipul dan para peserta tak kuasa menahan air mata, saat salah satu siswa membacakan puisi bertajuk "Dari Jamu Nguter dan Gamelan Wirun Kami Belajar".
Penampilan memukau tersebut, membuat para orang tua dan siswa semakin yakin bahwa Sekolah Rakyat adalah jalan yang tepat untuk meraih cita-cita dan memutus rantai kemiskinan.
Salah satunya Mulyadi, orang tua Khustimah, siswa Sekolah Rakyat Sukoharjo tingkat SMA. Mulyadi sangat bersyukur anaknya dapat melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat, setelah sebelumnya sempat berhenti sekolah selama satu tahun akibat keterbatasan ekonomi.
Sejak 2002, Mulyadi bekerja sebagai juru kunci makam, penghasilannya per bulan hanya Rp350 ribu, terkadang dapat tambahan saat ada keluarga yang berziarah.
Penghasilannya tersebut sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan terkadang Khustimah juga membantu Mulyadi bekerja membersihkan makam untuk mencari tambahan.
"Ya anak saya biar bisa masuk sekolah sini kan, biar bisa neruskan sekolahnya, biar bisa bantu, besok kalau sudah lulus, biar membantu orang tuanya gitu," kata Mulyadi.
Mulyadi dan anaknya Khustimah adalah salah satu contoh keluarga yang belum terbawa dalam proses pembangunan atau
the invisible people. Melalui Sekolah Rakyat, Presiden Prabowo Subianto berusaha menjangkau keluarga-keluarga seperti Mulyadi.
Dalam kesempatan ini Plt. Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan, sehingga Sukoharjo menjadi salah satu kabupaten yang memiliki Sekolah Rakyat permanen.
"Kepercayaan ini menjadi amanah yang akan kami jaga sebaik-baiknya melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, tenaga pendidik, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan," kata Eko.
BERITA TERKAIT: