Namun, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak kita untuk merefleksikan kembali hakikat bekerja sebagai jalan ibadah yang bernilai di hadapan Allah.
Dalam sebuah ceramah di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, Haedar mengingatkan bahwa orientasi hidup yang semata-mata pada duniawi berisiko membuat jiwa manusia menjadi kering.
“Kalau hidup hanya mengejar uang, nanti manusia bisa menjadi keras. Padahal hidup tidak hanya soal itu. Kita perlu menanyakan kembali, dari semua kehidupan ini, kita mau ke mana,” kata Haedar dikutip dari laman Muhammadiyah.
Ibadah, menurut Haedar, adalah kunci yang memberikan makna pada setiap aktivitas manusia agar tidak sia-sia.
“Ibadah itu membuat hidup kita lebih bermakna, tidak sia-sia. Sekecil apa pun yang kita lakukan, itu ada nilainya,” katanya.
Hal ini mencakup tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membantu sesama dan bersikap baik, yang menjadi bernilai apabila didasari niat yang benar. Di lingkungan kerja, Haedar mendorong terbangunnya budaya saling membantu dengan hati yang ringan.
“Dalam pekerjaan juga demikian. Kita harus ringan hati, saling membantu, tidak hanya berpegang pada otoritas masing-masing,” tegasnya.
Ia pun berpesan agar kita tidak memandang pekerjaan hanya dari besarnya penghasilan. “Hidup jauh lebih luas dari sekadar penghasilan. Karena itu, jangan selalu melihat pekerjaan hanya dari sisi materi yang didapatkan,” pesannya.
Sebagai penutup, Haedar mendefinisikan ulang profesionalisme bukan sekadar tentang gaji, melainkan integritas dan kesungguhan dalam menjalankan amanah.
“Profesional itu bukan hanya soal pekerjaan dan uang, tetapi bagaimana kita menjalankan tugas dengan kesungguhan,” pungkasnya.
Dengan cara pandang ini, pekerjaan bukan lagi beban duniawi, melainkan sarana untuk meraih keberkahan hidup.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: