Airlangga soal Rupiah Anjlok: Demand Dolar Lagi Tinggi saat Haji

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Selasa, 05 Mei 2026, 16:54 WIB
Airlangga soal Rupiah Anjlok: Demand Dolar Lagi Tinggi saat Haji
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: RMOL/Alifia)
rmol news logo Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara soal anjloknya nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah ke Rp17.400 per Dolar AS.

Airlangga menilai pelemahan tersebut bukan fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Menurutnya, sejumlah negara juga mengalami tekanan serupa terhadap Dolar AS, terutama dipicu tingginya permintaan valuta asing.

“Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap US Dollar dan biasanya juga pada saat ibadah haji demand terhadap Dolar itu meningkat,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Ia menjelaskan, lonjakan kebutuhan dolar juga biasanya terjadi pada kuartal kedua seiring meningkatnya aktivitas pembayaran, termasuk kebutuhan ibadah haji serta distribusi dividen oleh perusahaan.

“Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan tersebut dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen jadi demand terhadap dolar tinggi dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Airlangga, telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk mengantisipasi gejolak nilai tukar melalui berbagai langkah mitigasi, termasuk kerja sama keuangan dengan sejumlah negara.

“Namun kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan shock currency dengan China kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” tuturnya.

Mantan Ketum Golkar ini menambahkan, pemerintah juga akan mengatur strategi pembiayaan, termasuk komposisi utang dan penerbitan surat berharga dalam berbagai mata uang, guna meredam tekanan terhadap Dolar AS.

“Sehingga berharap nanti ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China ataupun dari Yen itu untuk menjaga tekanan terhadap US Dollar,” pungkasnya.rmol news logo article


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA