Capaian positif ini otomatis mendongkrak produksi beras nasional menjadi 14,03 juta ton, alias tumbuh 0,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menariknya, lonjakan produksi ini juga berjalan beriringan dengan tingkat kesejahteraan petani. Berdasarkan data BPS per Mei 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional melesat ke angka 127,73, atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa rahasia di balik peningkatan produksi kuartal pertama ini adalah ekspansi lahan panen. Sepanjang empat bulan pertama tahun ini, luas panen padi meluas hingga 4,51 juta hektare, tumbuh 0,43 persen secara tahunan.
Namun, pemerintah dan pelaku pasar tetap waspada. Jika membedah data secara bulanan, sinyal lampu kuning mulai terlihat pada April 2026. Luas panen pada bulan tersebut sempat menyusut 15,47 persen, yang otomatis memangkas produksi padi April menjadi 7,63 juta ton GKG.
Tren pengetatan ini diperkirakan masih akan berlanjut. BPS memproyeksikan potensi luas panen untuk periode Mei hingga Juli 2026 akan sedikit terkoreksi 0,65 persen menjadi 2,69 juta hektare, dengan estimasi produksi beras sekitar 7,92 juta ton.
Selain padi, komoditas jagung juga mencatatkan rapor hijau yang stabil, di mana produksi jagung pipilan kering sepanjang Januari-April 2026 tumbuh tipis menjadi 6,02 juta ton.
Kenaikan NTP pada Mei dipicu oleh indeks harga yang diterima petani yang melonjak hingga 2,53 persen, jauh melampaui kenaikan biaya hidup atau indeks yang mereka bayar yang hanya sebesar 0,53 persen.
Angka Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) bahkan meroket ke level 132,84, menandakan bisnis sektor agraria masih sangat menjanjikan.
Namun, BPS mencatat harga beras di tingkat penggilingan masih merangkak naik. Saat ini, beras premium dibanderol Rp14.667 per kilogram (naik 0,56 persen), sementara beras medium menguat 0,79 persen menjadi Rp13.402 per kilogram.
BERITA TERKAIT: