Dalam silaturahmi bersama jajaran PWNU dan PCNU se-Nusa Tenggara Barat (NTB) di Hotel Illira, Lombok Tengah, Gus Salam menegaskan rangkaian kunjungan yang dilakukannya bukan didorong kepentingan pribadi, melainkan menjalankan arahan guru.
KH Nurul Huda Djazuli atau yang akrab disapa Mbah Yai Da' merupakan salah satu sesepuh NU dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Pada periode 2021-2026, ia menjabat sebagai Mustasyar PBNU serta dikenal berperan dalam upaya ishlah atau rekonsiliasi berbagai dinamika internal PBNU, termasuk yang melibatkan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Tebuireng Jombang, dan Lirboyo Kediri pada akhir 2025.
“Masa kamu membiarkan NU konflik seperti ini. Saya (Mbah Yai Da’) prihatin, maka kamu harus ikhtiar di muktamar untuk jadi pemimpin di NU,” ujar Gus Salam menirukan dawuh sang gurunya, dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.
“Karenanya, saya adalah santri, sendiko dawuh mengikuti arahan, perintah dan nasehat guru-kyai serta masyayikh NU dan pesantren. Ketika saya diperintah untuk ikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui muktamar ke35, nanti, saya tetap sam’an wa tho’atan,” sambung Gus Salam.
Gus Salam mengatakan safari silaturahmi yang dilakukannya telah menjangkau 27 provinsi. Selain mempererat hubungan dengan warga NU, kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk berdialog, menyerap aspirasi, serta membangun kepercayaan bersama jajaran PWNU, PCNU, fungsionaris, dan para tokoh NU di berbagai daerah.
Menurutnya, apabila kelak mendapat amanah memimpin PBNU, ia tidak ingin dipandang sebagai seorang pemimpin, melainkan sebagai santri yang mengabdi dan melayani organisasi. Baginya, kepemimpinan sejati di NU tetap merujuk pada para pendiri dan ulama pendahulu, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, serta para masyayikh NU lainnya.
“Kesimpulannya, karena ini dawuhnya kiyai, kita berusaha semaksimal mungkin,” ungkapnya pada silaturrohim yang di hadiri wakil Rais PWNU NTB, TGH. Munajib Khalil dan PCNU se-NTB di Aula Mandalika hotel Illira Lombok Tengah.
Di hadapan pengurus PWNU-PCNU se-NTB, Gus Salam memberi sorotan pada gagasan peran dan tanggung jawab NU berdasar potensi dan peluang di daerah. Salah satunya sektor pariwisata sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi masyarakat NTB.
“NU harus mendorong, bahkan memfasilitasi keberdayaan ekonomi warga NU di sektor pariwisata. Wisata halal tentunya, namun berkualitas dan inklusif. Karena potensi ekonomi pariwisata di NTB sangat besar,” ujar Gus Salam.
Menurutnya, kemandirian ekonomi umat merupakan bagian penting dari upaya menjaga tegaknya ajaran agama. Menurutnya, kehadiran jam'iyah Nahdlatul Ulama harus mampu mendorong umat menjadi mandiri secara ekonomi agar dapat menopang berbagai ikhtiar dalam memperkuat kehidupan beragama.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Katib PWNU Jawa Timur periode 2018-2023, KH Syamsuddin, menilai Gus Salam konsisten menyampaikan visi dan misi sesuai arahan para masyayikh dan sesepuh NU, yakni mengembalikan jati diri NU sebagai organisasi yang berlandaskan semangat perjuangan, tradisi pesantren, serta pengabdian untuk kesejahteraan umat.
Menurutnya, semangat tersebut mencerminkan upaya memperkuat pendidikan keagamaan, akhlak, persaudaraan, kemandirian ekonomi umat, hingga menyiapkan generasi NU yang mampu menghadapi tantangan zaman.
Ia juga mengungkapkan, sebelum bertemu jajaran PWNU dan PCNU se-NTB, Gus Salam bersama sejumlah kiai bersilaturahmi ke sesepuh NU Lombok, TGH Ma'arif Makmun Diranse, yang berpesan agar para pengurus NU mengabdi kepada organisasi, bukan mencari penghidupan dari NU.
BERITA TERKAIT: