Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito menyampaikan bahwa jumlah pengungsi kini menyusut drastis menjadi 12.994 orang.
Pada Desember 2025 lalu, jumlah pengungsi sempat melonjak hingga lebih dari satu juta orang akibat dampak bencana yang meluas di berbagai wilayah.
Namun, seiring percepatan pemulihan dan relokasi warga terdampak, angka tersebut berhasil ditekan secara signifikan.
"Pengungsi tadinya dua juta lebih sekarang menjadi lebih kurang 12.994 yang ada di tenda," kata Tito dalam sebuah pernyataan di Gedung DPR RI, Jakarta, seperti dikutip Kamis, 19 Februari 2026.
Di Sumatra Barat, pemerintah memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian. Sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing, sementara korban dengan hunian rusak telah memperoleh hunian sementara (huntara) atau menumpang di rumah keluarga sembari menanti hunian tetap (huntap) dari pemerintah.
"Jadi Alhamdulillah untuk Sumatra Barat kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten kota yang terdampak, tidak terdapat pengungsi di tenda," ujar Tito.
Adapun di Sumatra Utara, masih terdapat 850 orang yang bertahan di tenda pengungsian di Tapanuli Tengah. Sementara di Aceh, tercatat 12.144 warga masih mengungsi, dengan konsentrasi terbanyak berada di Aceh Utara.
Tito menegaskan, kerja pemulihan belum sepenuhnya rampung. Sejumlah wilayah seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara masih menghadapi tumpukan kayu yang menghambat akses jalan serta sedimentasi sungai.
Di Aceh, perbaikan sarana pendidikan di Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Tengah menjadi prioritas, termasuk penanganan tanah amblas di Aceh Tengah dan normalisasi sungai di Nagan Raya.
BERITA TERKAIT: