Ketua Koalisi Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto mengatakan, berdasarkan TomTom Traffic Index 2025, Jakarta naik ke peringkat 24 sebagai kota termacet di dunia.
"Padahal tahun sebelumnya Jakarta menduduki peringkat 90 dalam indeks tersebut," kata Sugiyanto.
Pergantian Kadishub, kata Sugiyanto, bukanlah bentuk hukuman, melainkan bagian dari manajemen pemerintahan yang sehat, adaptif, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Menurut Sugiyanto, Jakarta membutuhkan energi baru, gagasan segar, dan terobosan konkret untuk keluar dari jerat kemacetan yang makin menggerogoti kualitas hidup warganya.
Selain itu, Sugiyanto melihat, selama 6,5 tahun menjadi orang nomor satu di Dishub DKI, Syafrin minim gebrakan untuk mengurai kemacetan di Jakarta.
Sugiyanto berpendapat, dalam sistem birokrasi modern, masa jabatan yang terlalu panjang berpotensi menimbulkan kejenuhan organisasi, stagnasi kebijakan, serta menghambat regenerasi karier aparatur sipil negara lainnya.
"Kondisi tersebut tidak selalu sehat, baik bagi institusi maupun bagi pejabat yang bersangkutan," kata Sugiyanto.
Sugiyanto lalu menyinggung penegasan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung soal pentingnya penerapan sistem merit dalam penyelenggaraan pemerintahan.
"Jadi gagasan pergantian Syafrin Liputo menjadi sangat relevan jika dikaitkan dengan komitmen terhadap prinsip meritokrasi dan penyegaran birokrasi," pungkas Sugiyanto.
BERITA TERKAIT: