Seperti proses persalinan pada umumnya, pada awal penanganan dilakukan Ultrasonography (USG). Dalam USG belum tampak ada kelainan, selain posisi bayi yang melintang. Karena posisinya yang melintang, tim medis yang diketuai oleh dr. Tatang SpOG memutuskan untuk melakukan operasi caesar.
"Operasi dimulai pada pukul 21.00 WIB dan baru berhasil diangkat pada pukul 21.45 WIB," kata dr. Tatang, Kamis (27/6).
Tim medis yang menangani terkejut karena saat bayi diangkat baru ketahuan kalau ia memliki dua kepala.
“Dalam istilah kedokteran disebut
paragus dicephalus conjoined twins atau bayi berkepala dua," jelasnya.
Menurut Tatang, dalam sejarah kelahiran di Indonesia, bayi berkepala dua yang lahir kemarin malam di Majenang ini adalah bayi ketiga di Indonesia. Bayi pertama lahir tahun 2006 dan yang kedua tahun 2009.
"Kelahiran bayi berkepala dua sangat langka dan fenomenal," tegasnya.
Perbandingan bayi normal dengan bayi berkepala dua adalah 200 ribu kelahiran normal berbanding satu kelahiran bayi kepala dua.
Tatang menambahkan, dari sejumlah kasus bayi berkepala dua itu, ada diantara mereka yang bertahan sampai dewasa. Namun, ada juga yang hanya bisa bertahan sampai umur 7 tahun.
Kasus bayi berkepala dua, menurutnya, mulai ditemukan pada 1783 di Bengal, India. Menyusul kemudian pada 1811, di Amerika Latin. Di era modern, bayi berkepala dua lahir di Minessota, Amerika Serikat pada 1990 dan diberi nama Abigail dan Britanny.
[ald]
BERITA TERKAIT: