Garda Satya NKRI merupakan wadah bagi para mantan anggota JI yang dipimpin Ustaz Para Wijayanto. Kegiatan ini menjadi bagian dari roadmap pembinaan selama lima tahun yang disusun Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri setelah deklarasi pembubaran JI pada 30 Juni 2024.
Kepala Densus 88 Antiteror Polri, Irjen Pol Sentot Prasetyo mengatakan, program tersebut merupakan bentuk komitmen Polri dalam mengawal proses reintegrasi sosial para mantan anggota JI.
Program pembinaan diarahkan untuk memastikan para eks anggota JI dapat kembali diterima di tengah masyarakat sekaligus memperkuat komitmen terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Program ini dirancang berkelanjutan untuk memastikan seluruh eks Jemaah Islamiyah mendapatkan bimbingan agar dapat diterima kembali oleh masyarakat luas sekaligus meneguhkan komitmen menjaga keutuhan NKRI," kata Irjen Sentot di Solo, Minggu, 30 Agustus 2026.
Irjen Sentot menjelaskan, hingga saat ini seluruh struktur keanggotaan JI di 28 provinsi telah melaksanakan deklarasi pembubaran diri secara total.
Densus 88 mencatat sebanyak 7.942 mantan anggota dan simpatisan telah mengikuti berbagai program pembinaan yang tersebar di wilayah tersebut.
Selain itu, Densus 88 telah melakukan assessment transformasi ideologi terhadap 1.611 responden di 11 wilayah strategis. Assessment tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi para mantan anggota setelah pembubaran JI.
Upaya reintegrasi juga diarahkan pada aspek kemandirian ekonomi. Polri menggandeng kementerian, lembaga, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menyelenggarakan 19 jenis pelatihan keterampilan.
Pelatihan tersebut antara lain mencakup teknisi AC, barista kopi, content creator, digital marketing, juru sembelih halal, kewirausahaan agribisnis, pertanian terpadu, hingga pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Densus 88 juga menyiapkan 15 program lanjutan untuk memperkuat transformasi pemikiran dan moderasi beragama para mantan anggota JI.
Sejumlah program yang disiapkan meliputi dialog internal transformasi ideologi, daurah transformasi di lebih dari 30 pondok pesantren, serta pendampingan pesantren bersama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Program lainnya berupa kuliah diniyah mingguan serta pendampingan bagi istri dan anak mantan anggota JI.
Densus 88 juga akan memperkuat kontra-narasi digital melalui Digital Counter-Narrative Lab, penerbitan buku At-Tatharuff, buletin Jumat, hingga podcast pembanding.
Menurut Irjen Sentot, keberhasilan pelaksanaan roadmap tersebut tidak terlepas dari sinergi antara Polri dan berbagai mitra di daerah. Kolaborasi dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Polda Jawa Tengah, Kementerian Agama, PWNU Jawa Tengah, serta Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.
"Melalui ruang dialog terbuka ini, kita menyaksikan kehadiran nyata negara. Kami berharap sinergi ini melahirkan langkah konkret dalam menghadapi dinamika ancaman kekerasan berbasis ekstremisme, sekaligus memastikan tidak ada ruang bagi bangkitnya afiliasi kelompok ekstremis baru di Indonesia," pungkas Irjen Sentot.
BERITA TERKAIT: