Secara sederhana, zero attack merupakan kondisi nihilnya aksi terorisme di Indonesia dalam kurun waktu tertentu.
Apresiasi tersebut disampaikan Kapolri saat membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 AT Polri Tahun 2026 yang digelar pada 18-20 Mei 2026 dengan tema “Strategi Kolaboratif Presisi dalam Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan dan Terorisme guna Menjaga Stabilitas Kamtibmas Nasional.”
Dalam kegiatan itu, Kapolri juga meninjau
Milestone Wal yang menampilkan sejarah panjang penanggulangan terorisme di Indonesia, mulai dari gerakan DI/TII pada 1949, perkembangan jaringan transnasional Jemaah Islamiyah, tragedi Bom Bali I, hingga kondisi penanganan terorisme saat ini.
Juru Bicara Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan capaian zero terrorist attack selama hampir tiga tahun berturut-turut memberikan dampak positif terhadap stabilitas nasional, meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri, serta mendukung iklim investasi dan agenda strategis nasional maupun internasional.
Meski demikian, Kapolri mengingatkan tantangan penanggulangan terorisme ke depan akan semakin kompleks seiring tingginya penetrasi internet dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Mayndra, media sosial kini dimanfaatkan kelompok ekstrem untuk melakukan radikalisasi otomatis, penyebaran salad bar ideology, hingga gamifikasi kekerasan melalui platform permainan daring.
“Densus 88 AT Polri harus terus memperkuat kemampuan intelijen teknologi dan intelijen manusia guna mengantisipasi transformasi ancaman yang bergerak cepat di ruang siber,” ujar Mayndra mengutip arahan Kapolri.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolri juga menyerahkan penghargaan kepada 12 tokoh dan counterpart dari negara sahabat yang dinilai berkontribusi dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme.
Penerima penghargaan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, psikolog, mitra internasional, lembaga pendidikan, hingga unsur masyarakat sipil.
BERITA TERKAIT: