Di tengah perbedaan ideologi yang tajam, keduanya justru menunjukkan kedekatan yang tidak lazim dan mendapat sorotan dunia internasional.
Secara latar belakang, Kim Il Sung dikenal sebagai pemimpin komunis yang konsisten dengan garis ideologinya, sementara Sukarno merupakan nasionalis yang kuat dan religius.
Perbedaan usia lebih dari sepuluh tahun serta masa relasi sebagai kepala negara yang relatif singkat tidak menghalangi terciptanya hubungan yang hangat di antara keduanya.
Kedekatan ini tidak lahir tanpa alasan. Keduanya sama-sama memiliki cita-cita besar untuk memperjuangkan kemerdekaan dan menolak segala bentuk imperialisme serta dominasi asing.
Hal ini tercermin dari sikap Sukarno yang mendorong konsep berdikari, termasuk dalam membangun ekonomi yang bertumpu pada kekuatan sendiri.
Momentum penting terjadi saat kunjungan Sukarno ke Korea Utara pada November 1964. Dalam lawatan tersebut, ia semakin memahami konsep kemandirian dan ekonomi berdikari yang dikembangkan Kim Il Sung, serta menunjukkan simpati mendalam terhadap gagasan tersebut.
Puncak kedekatan itu terlihat ketika Sukarno mengundang Kim Il Sung menghadiri sidang MPRS di Bandung pada April 1965.
Dalam pidatonya, Sukarno menegaskan pentingnya beralih ke jalan kemandirian ekonomi dan mengibarkan panji kemandirian, serta menyebu Kim Il Sung menciptakan gagasan terkenal tentang kemandirian.
Dalam momen yang jarang terjadi, Sukarno bahkan mengulang istilah “Juche” sebanyak empat kali dalam bahasa Korea di forum resmi.
Ia menyatakan kebanggaannya dan menegaskan bahwa arah kebijakan yang dimaksud adalah memperkuat orientasi kemandirian di Indonesia, seraya meyakini bahwa bangsa dengan sumber daya besar akan mampu lepas dari jerat neokolonialisme jika mengandalkan kekuatan sendiri.
Dukungan Kim Il Sung terhadap sikap independen dan cinta damai Sukarno semakin mempererat hubungan kedua pemimpin tersebut.
Sebagai bentuk penghormatan, Sukarno menganugerahkan tanda kehormatan tertinggi Indonesia kepada Kim Il Sung, menandai eratnya persahabatan lintas ideologi yang dipersatukan oleh semangat melawan imperialisme.
BERITA TERKAIT: