Ini terjadi saat Taiwan menyambut sepasang ahli dari China untuk membantu mengobati panda bernama Tuan Tuan yang berada di Kebun Binatang Taipei. Kondisi kesehatan panda yang diduga menderita tumor otak ganas itu memburuk.
"MRI pada Tuan Tuan menunjukkan bahwa lesi di otaknya telah tumbuh sebagai tanda penyakit itu berkembang pesat," kata kebun binatang Taipei dalam rilis berita, seperti dimuat
AP, Kamis (3/11).
Juru bicara kebun binatang Eric Tsao mengatakan kedua belah pihak mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk memberi Tuan Tuan perawatan terbaik dan perawatan harian terbaik.
Sementara itu Kepala dokter hewan Lai Yen-hsueh mengatakan para ahli telah setuju untuk menunda operasi berdasarkan kemungkinan reaksi hewan terhadap anestesi dan lokasi daerah yang sakit.
Para ahli China, Wu Honglin dan Wei Ming, memiliki pengalaman panjang di bidang kesehatan dan reproduksi panda di pusat penelitian panda utama di Wolong di provinsi Sichuan, China.
Panda raksasa dan pasangannya, Yuan Yuan, dihadiahkan ke kebun binatang pada tahun 2008 selama masa hubungan yang memanas antara China dan Taiwan.
Hubungan telah memburuk sejak saat itu, di mana Beijing memutuskan kontak pada tahun 2016 setelah pemilihan Presiden Tsai Ing-wen terpilih kembali pada tahun 2020. Jajak pendapat secara rutin menunjukkan Taiwan menolak permintaan China untuk penyatuan politik antara kedua pihak, sebagai gantinya mendukung status quo kemerdekaan de facto.
China biasanya mengirim panda ke luar negeri sebagai tanda niat baik tetapi tetap mempertahankan kepemilikan atas hewan tersebut juga setiap anak yang mereka hasilkan.
Panda, yang jarang berkembang biak di alam liar dan bergantung pada makanan bambu, tetap menjadi salah satu spesies paling terancam di dunia. Diperkirakan saat ini ada 1.800 panda hidup di alam liar, sementara 500 lainnya berada di kebun binatang atau cagar alam yang sebagian besar berada di Sichuan.
BERITA TERKAIT: