Studi terbaru menunjukkan warga AS telah menanggung lebih dari 37,4 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp654 triliun dalam biaya energi tambahan sejak konflik pecah pada 28 Februari, saat Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap Iran.
Data dari Iran War Energy Cost Tracker milik Brown University memperlihatkan beban ekonomi itu terus meningkat secara real-time setiap detik.
Sebagian besar biaya tambahan berasal dari petroleum yang mencapai 20,41 miliar dolar AS, sementara diesel menyumbang hampir 17 miliar dolar AS, menandakan perang telah memicu gelombang mahal energi yang langsung menghantam kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika.
Dampak paling nyata dirasakan rumah tangga AS, yang kini rata-rata harus membayar tambahan 285,10 dolar AS per bulan untuk kebutuhan bensin dan diesel.
“Ini adalah pengeluaran yang langsung berasal dari kantong konsumen Amerika,” kata pemimpin studi tersebut, Jeff Colgan, seperti dikutip dari
TRT World, Selasa, 12 Mei 2026.
Lonjakan beban itu kian memburuk setelah Iran mengambil langkah balasan dengan menutup Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu chokepoint energi terpenting dunia.
Penutupan ini mengguncang pasar global, menekan pelabuhan regional, mengacaukan jadwal pengiriman, serta memperbesar tekanan pada rantai pasok internasional yang sebelumnya sudah rapuh akibat risiko keamanan.
Harga bensin di Amerika pun melonjak drastis. Jika saat perang dimulai harga masih berada di bawah 3 dolar AS per galon, kini rata-rata telah menembus 4,52 dolar AS per galon atau lebih dari 50 persen lebih tinggi.
Selain penutupan Hormuz, serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi milik sekutu Arab Teluk AS semakin memperparah krisis.
Kombinasi gangguan distribusi dan ancaman keamanan ini mendorong harga energi global meroket, sementara rakyat Amerika dipaksa menanggung konsekuensi finansialnya.
BERITA TERKAIT: