Terkejut dan Sangat Sedih atas Laporan Ratusan Mayat di Bucha, Guterres Desak Penyelidikan Segera

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 04 April 2022, 11:39 WIB
Terkejut dan Sangat Sedih atas Laporan Ratusan Mayat di Bucha, Guterres Desak Penyelidikan Segera
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa Antonio Guterres/Net
rmol news logo Rasa terkejut dan kesedihan yang dalam disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa Antonio Guterres atas laporan penemuan ratusan mayat di jalan-jalan di Bucha, dekat Kiev.

Dalam cuitannya di akun Twitter pada Minggu (3/4) waktu setempat, ia meminta dilakukan penyelidikan independen atas dugaan pembunuhan dan kejahatan perang di kota itu.

"Saya sangat terkejut dengan gambar warga sipil yang terbunuh di Bucha, Ukraina. Sangat penting bahwa penyelidikan independen mengarah pada akuntabilitas yang efektif," katanya, seperti dikutip dari BBC.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB juga mengangkat kemungkinan bahwa Rusia telah melakukan kejahatan perang di Ukraina.

"Apa yang diketahui hingga saat ini jelas menimbulkan pertanyaan serius dan mengganggu tentang kemungkinan kejahatan perang dan pelanggaran berat hukum humaniter internasional," bunyinya.

Ia menegaskan penting bahwa semua mayat digali dan diidentifikasi.

"Agar bisa dikabarkan kepada kerabatnya, dan agar diketahui penyebab pasti kematian," katanya.

Penasihat presiden Ukraina Mykhailo Podoliak mengatakan bahwa orang-orang dalam gambar yang telah tersebar di online itu, telah dieksekusi oleh pasukan Rusia, dan Walikota Bucha Anatoly Fedorur mengatakan 280 orang telah dimakamkan di kuburan massal.

Kondisi mayat semua nampak mengerikan.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg  bahkan mengatakan, gambar-gambar itu sangat mengerikan dan bahwa perang harus segera diakhiri agar tidak banyak korban sipil berjatuhan.

Kremlin telah membantah laporan tersebut. Mengatakan bahwa pasukan Rusia tidak pernah menyerang warga sipil.

Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengklaim semua foto dan rekaman tersebut merupakan provokasi lain karena semua unit Rusia benar-benar menarik diri dari kota pada awal 30 Maret. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA