Agak kerepotan juga Perry Warjiyo menjelaskan kenapa rupiah melemah terhadap dolar di saat fundamental ekonomi kita relatif baik.
Perry Warjiyo seperti menghindar bicara soal melemahnya rupiah terhadap dolar. Ia menggantinya dengan istilah stabilitas nilai tukar.
Baginya, sebagai nilai tukar, rupiah relatif stabil, karena berada pada kisaran 5,4 persen, terhadap dolar.
Sudah jelas melemah, tapi tetap dibilang stabil.
Inilah yang membuat anggota DPR dari Fraksi PDIP, Dolfie Othniel Frederic Palit, yang juga Wakil Ketua Komisi XI, memprotes penjelasan Gubernur BI itu.
Baginya, rupiah bisa dikatakan stabil kalau dia kembali pada kondisi semula, minimal pada bulan April lalu, sekitar Rp16.000, bukan terus menaik, hingga akan menembus angka Rp18.000 saat ini.
Tapi, tetap saja Gubernur BI, mengatakan rupiah sebagai nilai tukar tetap stabil dengan rumusannya itu.
Memang, April, Mei, dan Juni, kebutuhan pada dolar menguat, sehingga rupiah terus melemah.
Gubernur BI hanya bisa memperkirakan bahwa rupiah akan menguat lagi nantinya pada bulan Juli, Agustus, dan seterusnya.
Ketua Komisi XI, Misbakhun, sampai ikut bersuara mempertanyakan istilah stabilitas nilai tukar yang diletakkan pada kisaran 5,4 perseb, masih bisa dikatakan stabil.
Lagi-lagi, pentingnya pemakaian diksi, seperti kuliah saya dulu di Fakultas Sastra?
Diksi, ternyata sangat penting, termasuk dalam ilmu ekonomi saat ini.
Erizal Direktur ABC Riset & Consulting
BERITA TERKAIT: