Mereka menilai Inggris terlalu terburu-buru mengambil keputusan tersebut karena bisa merusak sektor industri dan pariwisata yang mulai bangkit.
"Kekhawatiran langsung kami adalah kerusakan yang akan ditimbulkan keputusan ini terhadap industri pariwisata dan bisnis kedua negara," kata Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Naledi Pandor dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari
Reuters, Jumat (26/11).
"Afrika Selatan akan terlibat dengan pihak berwenang Inggris untuk mencoba membuat mereka mempertimbangkan kembali keputusan mereka," tambah pernyataan itu.
Para ilmuwan sejauh telah mendeteksi munculnya varian B.1.1.529 dalam jumlah yang relatif kecil di Afrika Selatan, Botswana dan Hong Kong, tetapi mereka khawatir dengan jumlah mutasi yang tinggi yang dapat membantunya menghindari respon imun tubuh dan membuatnya lebih mudah menular.
Menanggapi perkembangan tersebut, Inggris pada Kamis (25/11) untuk sementara melarang penerbangan dari Afrika Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Lesotho dan Eswatini mulai Jumat.
Afrika Selatan telah meminta pertemuan mendesak dari kelompok kerja Organisasi Kesehatan Dunia tentang evolusi virus pada hari Jumat untuk membahas varian baru.
BERITA TERKAIT: