Lukashenko Tuduh Media Independen Rusak Kredibilitas Belarusia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 17 September 2020, 11:36 WIB
Lukashenko Tuduh Media Independen Rusak Kredibilitas Belarusia
Presiden Belarusia Alexandr Lukashenko/Net
rmol news logo Presiden Belarusia telah berulang kali mengatakan bahwa administrator saluran Telegram yang berbasis di luar negeri telah mengendalikan aksi protes oposisi dengan memberi tahu pengunjuk rasa di mana dan kapan harus berkumpul.

Menurutnya, outlet media independen dan saluran Telegram menghancurkan kepercayaan rakyat pada negara di tengah pandemik virus corona. Alexandr Lukashenko menyampaikan hal itu pada pertemuan dengan aktivis politik, Rabu (16/9), seperti dikutip kantor berita BelTA.

"Pihak berwenang benar-benar fokus pada perang melawan pandemik Covid-19  yang tiba-tiba mengambil alih dunia. Dan alih-alih berdiri berdampingan dengan kami dalam pertarungan global ini, yang disebut outlet media independen dan saluran Telegram itu justru melakukan semua yang mereka lakukan dengan mempersulit pekerjaan kami. Mereka menghancurkan kepercayaan rakyat terhadap negara," kata Lukashenko.

Belarusia mengalami kerusuhan panjang dari aksi protes pada hasil pemilihan yang berlangsung 9 Agustus lalu. Selama berminggu-minggu massa terus menerus melancarkan aksi protes, memenuhi jalan-jalan menuju Ibukota Minsk, hingga berbenturan dengan aparat dan jatuh korban.

Menurut data Komisi Pemilihan Pusat, Presiden petahana Alexander Lukashenko menang 80,1 suara. Sementara lawannya, Svetlana Tikhanovskaya, yang mengumpulkan 10,12 persen, menolak untuk mengakui hasil pemilihan dan meninggalkan Belarusia.

Protes meletus tidak hanya di Minsk tetapi juga di beberapa kota lain.

Dewan Koordinasi oposisi terus meminta rakyat negara itu untuk melanjutkan protes, sementara pihak berwenang menekankan perlunya mengakhiri kegiatan yang tidak sah.

Pada Senin (14/9) Lukashenko mengunjungi 'saudara laki-laki'-nya di Rusia, Presiden Vladimir Putin untuk pembicaraan yang lebih serus lagi mengenai situasi di Belarus. Pertemuan itu mengundnag aksi yang lebih besar. Ratuan ribu orang mengecam pertemuan yang dianggap sebagai 'menjual negara'. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA