Sanksi yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri AS tersebut menargetkan perusahaan pelayaraan negara Iran dan perusahaan yang berbasis di China.
Dikatakan oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, sanksi juga akan berlaku pada perusahaan maupun negara yang melakukan bisnis, termasuk dengan cara pembekuan aset yang mereka miliki di yuridiksi AS.
"Penunjukkan hari ini memberi tahu dunia bahwa mereka yang terlibat dalam transaksi gelap dengan perusahaan-perusahaan ini akan menghadapi risiko paparan dan sanksi sendiri," ujar Pompeo seperti yang dimuat
AP, Kamis (12/12).
Dengan adanya sanksi tersebut, Pompeo kembali menyatakan harapannya untuk melakukan pertukaran tahanan dengan Iran. Karena hal tersebut dapat membuka pintu dialog antara AS dan Iran.
"Saya berharap pertukaran yang terjadi akan mengarah pada diskusi yang lebih luas tentang urusan konsuler. Kmai berupaya menggunakan ini sebagai peluang untuk melanjutkan upaya itu," tambah Pompeo.
Menurut pihak berwenang AS, saat ini Iran menahan satu warga negara AS dan lima warga negara AS-Iran. Sementara AS sendiri menahan 20 warga negara Iran. Pada Senin (9/12), Iran mengatakan siap untuk melakukan pertukaran tahanan.
Sementara itu, menanggapi sanksi ini, Jurubicara misi Iran untuk PBB Alireza Miryousefi mengatakan sanksi tersebut adalah terorisme ekonomi AS terhadap Iran karena telah secara langsung menargetkan mata pencaharian rakyat.
"Meski demikian, rakyat Iran tidak akan takut dengan kekuatan asing," kata Alireza Miryousefi.
BERITA TERKAIT: